Rabu, 11 Desember 2013

WANITA MADU DUNIA

Oleh : pitajoe

Saat ingin menulis artikel ini, konsep yang sudah terpapar di otak saya tiba-tiba saja buyar saat berhadapan dengan mesin tik moderen. Mungkin karena saya grogi. Atau mungkin karena terlalu banyaknya cerita tentang sosok ibu yang ada di otak saya sehingga saya tidak dapat mengingatnya satupun. Hal itu mengharuskan saya berpikir kembali apa yang menarik yang dapat dibahas dari sosok ibu? Ternyata jawabannya, yang menarik dari sosok ibu adalah: ibu itu sosok yang menarik. Nah loh? Hal yang menarik dari sosok ibu ternyata kemenarikan ibu kita itu sendiri. Hanya kalian yang dapat menjawabnya karena setiap orang pasti memiliki pandangan masing-masing mengenai ibunya sendiri. Ibuku cantik, Ibuku baik, ibuku cerewet tetapi perhatian, ibuku pelit tetapi penuh tanggung jawab, ibuku galak tetapi selalu mengingatkan aku untuk makan malam, dan ibu-ibu yang lain yang sifatnya berbeda namun tetap terkenal dengan sosok yang penuh kasih sayang dan penuh ketegaran dalam hidupnya. Ya, seberapa buruk rupa atau sifat seorang ibu, itulah ibu kita. Seberapa galak dan cerewetnya seorang ibu, itulah ibu kita.
Bicara soal sosok “ibu”, tentu kita akan segera mengingat wajah ibu kita tercinta yang telah bersusah payah mengandung, melahirkan, dan mendidik kita hingga besar. Ibu adalah pahlawan. Sangat miris jika melihat pergaulan jaman sekarang ini, dimana banyak ditemukan remaja-remaja yang mulai berani membangkang bahkan berbohong kepada orangtua, Ibu khususnya. Lihat saja, bisa setiap menit remaja-remaja itu melontarkan kalimat mesra dan perhatian kepada pasangan atau pacarnya, seperti pertanyaan “sudah makan belum?” atau “jangan lupa makan ya biar nggak sakit”. Mengapa tidak kalimat-kalimat tersebut mereka lontarkan kepada ibu mereka saat mereka dirumah. Hal tersebut seharusnya dipikirkan oleh kita semua. Saat kita dewasa, pola pikir kita seharusnya mampu menyaring mana perbuatan baik dan mana perbuatan yang buruk.
Seseorang perempuan yang telah menjadi sosok dengan status “ibu” tidaklah semudah yang kita bayangkan. Perjuangannya terus mengalir seperti air sungai yang tak pernah kering. Mulai dari saat mengandung yang dengan hati-hati menjaga kandungannya selama sembilan bulan, lalu saat menunggu waktu untuk melahirkan yang membutuhkan banyak persiapan tenaga dan persiapan batin karena saat melahirkan nanti seperti perang yang jika tidak seiring dengan nafas, taruhannya adalah nyawa. Kemudian perjuangannya dalam mengurus kita sewaktu bayi. Sungguh pasti sangat merepotkan. Harus menggantikan popok setiap kali sudah berat dengan air pipis, harus begadang jika kita sakit dan terus merengek, harus bangun tengah malam saat kita menangis karena haus dan ingin air susunya, harus mengerjakan pekerjaan rumah juga, harus menyiapkan makan suami juga, dan harus menghitung biaya rumah tangga setiap bulannya. Ya Allah, beban seperti itu memang sudah merupakan kodrat seorang ibu. Beban yang merupakan kewajiban seorang wanita. Karena setiap wanita di dunia ini adalah bibit yang akan menjadi sosok ibu nantinya.
Jika kita melihat sisi sosok ibu seperti tadi, masihkah kaum lelaki berani menjuluki wanita sebagai “racun dunia”? Tidakkah ibu mereka juga wanita? Mungkin memang, kata “racun” yang mereka gunakan untuk menjuluki wanita memiliki makna yang berbalik dengan makna racun yang sebenarnya. Misalnya saja, mereka mengatakan “wanita racun dunia” karena mereka luluh atau tergila-gila oleh kehadiran sosok wanita. Namun itu semua akan lebih indah didengar jika mereka mengatakan “wanita madu dunia”. Untuk kaum lelaki, tidakkah kalian anggap wanita itu sebagai pemanis hidupmu? Dan bagi kalian semua, tidakkah kalian anggap perjuangan-perjuangan ibu kalian yang tak ternilai harganya itu bagai sesuatu yang indah dan manis?
Ada satu hal lagi yang mengganjal dalam pemikiran saya, mengapa orang-orang berebut perhatian dengan memberi sedekah kepada anak yatim piatu, buka puasa bersama bahkan menyekolahkannya. Tidakkah mereka berfikir bahwa diri mereka sendiri haruslah terlebih dulu membenahi diri dan hidup mereka dengan penuh kasih sayang dan ketegaran agar tidak menyebabkan anak mereka menjadi anak yatim piatu. Karena penyebab anak menjadi anak yatim piatu yang terbesar bukanlah karena orangtua mereka yang meninggal dunia, melainkan perceraian. Sedangkan faktor-faktor penyebab perceraian itu sendiri sebagian besar dari ketidak harmonisan dan tidak adanya korelasi yang baik antara seorang suami dan istri sehingga tidak ada ketegaran menjalani lakonnya sebagai orangtua. Sebagian besar dari hal tersebut, yang berperan lebih aktif adalah sosok ibu.
Ibu adalah pahlawan abadi yang takkan pernah ada satu pun yang bisa menggantikannya. Bahkan figur ayah pun tidak akan bisa setangguh sosok ibu yang hidupnya penuh kasih dan ketegaran. Banyak kasus yang dapat dilihat, salah satunya seorang istri yang ditinggal pergi oleh suaminya dan ia harus menghidupkan dirinya dan anak-anaknya dengan mencari nafkah seperti menjadi pedagang, pekerja rumah tangga, ada yang menjadi pekerja sesuai keahliannya seperti tukang urut, tukang masak bahkan menjadi tukang ojek. Yang lebih mirisnya lagi ada yang rela menjajakan tubuhnya sebagai pekerja seks. Subhanallah. Andai saja perekonomian di negeri ini bisa rata karena diraih setidaknya dengan seonggok perhatian pemerintah terhadap kaum yang membutuhkan pekerjaan.
“Wanita madu dunia” memang julukan yang sangat cocok untuk perjuangan seorang ibu. Apa jadinya dunia ini tanpa ketangguhannya? Apa jadinya hidup ini tanpa bimbingannya yang lembut dibalik galak, pelit dan cerewetnya yang begitu manis. Ingatlah selalu kebaikannya bahkan hingga sosoknya tak lagi dapat kita lihat. Sentuhlah setiap kalimat nasihatnya dengan kelembutan karena berbakti kepada ibu adalah kewajiban setiap figur anak. Sesungguhnya istilah bahwa surga ada di telapak kaki ibu merupakan makna yang cukup mendalam yang berarti sebelum berkata ingin berbakti pada Negara, seorang anak harus berbakti terlebih dulu kepada orangtua, ibu khususnya. Berbakti dan menyayangi ibu bukan berarti harus mencium dan memeluknya setiap akan pergi sekolah atau hanya membantunya mengerjakan pekerjaan rumah ketika libur, tetapi berbakti dan sayangilah ibu dengan benahi perilaku kita agar selalu melakukan tindakan yang terpuji. Sehingga kita menjadi pribadi yang tangguh dan tegar. Sayangi dan genggamlah jemarinya yang manis agar kita selalu ingat dan berkata bahwa wanita adalah madu dunia.

@pitajoe_
awal 2012









2 komentar: