Oleh : pitajoe
“Kembang apinya bagus banget ya Res.”
“Tapi tadi itu belum seberapa Rei. Yang
mantep itu kembang api di dufan, Ancol. Tepat jam 00.00 di pergantian tahun, kembang apinya meluncur membentuk huruf
D-U-F-A-N dan tulisannya hilang dalam waktu yang lama banget.”
“Yahh.. Kamu bikin aku jadi pingin lihat Res. Emangnya kamu udah pernah lihat? Hmm.. sama
siapa?”
“Hehehe aku diceritain temanku sayang,
jangan cemburu dulu dong.”
“Ah kamu! Aku kira kamu udah lihat.”
“Aku belum lihat Reiyas sayang, gimana kalau
tahun depan kita lihat sama-sama. Kita merayakan tahun baru di dufan. Setuju?”
“Serius dong Res..”
“Iya
serius. Pokoknya aku janji..”
Seyumku tak terbendung dikala itu.
Percakapan seusai malam pergantian tahun lalu di pinggir jalan tol Cibubur yang tidak akan pernah aku lupakan. Betapa percikan kembang api malam
itu menjanjikan. Sinarnya melebur bersama terangnya bintang-bintang. Menemani
kebersamaan kami dibawah indahnya bulan bulat.
Itulah kali pertama kami melihat perayaan malam pergantian tahun bersama,
setelah sebelumnya kami menjalin hubungan sebelas bulan.
Lima bulan yang lalu ares
menjemputku ke rumah. Ia akan mengantarkanku ke sebuah toko buku. Sesampainya
dirumahku, aku sedikit terkejut dengan penampilannya. Ares, lelaki yang sangat
ku cintai itu sangat terlihat beda dari biasanya. Kulitnya yang putih tampak
segar dengan kaos krem yang dibalut kemeja kotak-kotak berwarna biru muda dan
hijau dengan sedikit polet garis hitam. Bawahannya juga rapi. Jeans biru tua
gelap dengan sepatu sneakers krem. Ares yang kukenal biasanya untuk pergi ke
toko buku saja ia akan berpakaian santai dengan baju kaos, celana pendek dan
sandalnya. Selain cara berpakaian, sorot matanya juga tidak seperti biasa.
Seperti ingin mengatakan sesuatu yang sulit di ungkapkan. Tetapi aku tidak
peduli. Yang aku rasa, aku senang, ia terlihat lebih tampan dari biasanya.
Sesampainya disana, Ares tidak
banyak bicara. Ia hanya melontarkan beberapa kata yang dianggapnya penting
saja. Wajahnya sendu namun tatapannya kosong. Bibirnya selalu menyungging
senyum setiap kali kami saling bertatapan. Di setiap kesempatan juga ia selalu
menggenggam erat tanganku. firasatku terus berputar dan bertanya-tanya ada apa
sebenarnya dengan Ares.
Di perjalanan pulang, Ares yang
selalu membahas perkembangan musiknya di atas motor, kini seperti tidak punya
hal baru yang dapat dibahas. Ares yang selalu memberi candaan segar kini seakan
kehabisan akal. Biasanya memang, anak band seperti Ares adalah orang-orang yang
humoris. Tetapi mengapa, ketika itu ia terlihat aneh bagiku.
Jantungku berdegup kencang di
perempatan saat perjalanan kami terhenti oleh lampu merah. Selama enam puluh
detik pikiran ini tidak karuan. Aku berusaha menenangkan pikiran dan hatiku.
Aku pejamkan kedua mataku agar aku merasa semuanya baik-baik saja. Ku dekap
erat tubuh Ares yang lunglai itu di atas motor. Tangan kirinya melepas stang
motor dan mengusap jemariku. Aku sangat merasakan kasih sayang lewat tangan
lembutnya .Ternyata enam puluh detik waktu yang tersedia disana untuk terakhir
kalinya aku mendekap erat tubuh Ares. Karena setelah lampu hijau menyala, sebuah
truk kontrainer melaju cepat dari jalur lain yang seharusnya berhenti.
Kontrainer yang menerobos lampu merah itu juga menerobos motor Ares dengan
hebatnya. Aku sempat tidak sadarkan diri saat itu.
Aku baru sadarkan diri setelah dua
hari mengalami koma di rumah sakit. Begitu tersadar, aku mendapati berita bahwa
Ares sudah tidak ada. Ia meninggal langsung di tempat kejadian. Mendengar hal
itu badanku lemas seperti akan kembali koma. Pikiranku melayang entah kemana.
Hatiku mengejang. Kerongkonganku kering sekering-keringnya. Aku tidak percaya, aku
hanya bisa menangis, menangis dan menangis saat itu.
Tak sempat aku melihat proses
pemakaman Ares di tempat peristirahatan terakhirnya karena kondisi tubuhku yang
belum pulih. Kata dokter, aku mengalami benturan hebat di tengkuk belakang dan
tulang betis. Hampir saja aku mengalami kelumpuhan. Namun Tuhan masih
memberikanku secercah nyawa lagi. Tuhan masih sayang kepadaku. Tetapi mengapa Ares
harus pergi? Mengapa Tuhan mengambil Ares disaat aku tidak ingin sedetikpun
melepaskannya? Takdir Tuhan memang tidak dapat diperkirakan manusia.
Janji untuk melihat indahnya malam
pergantian tahun bersama Ares di tahun ini harus terkubur bersama dukaku.
Setelah maut yang merenggut nyawa kekasihku datang dengan raut sendu, yang
tersisa hanyalah kepingan kenangan manis bersamanya di setiap sudut kota.
Malam ini adalah malam tahun baru.
Sudah lima bulan Ares pergi namun wajah penuh kasih itu masih bisa aku rasakan.
“Sayang, malam ini seharusnya kita melihat perayaan malam tahun baru di dufan…”
Aku tidak bisa menahan segala rasa sedih yang mendekapku begitu erat. Lagi-lagi
air mata ini membanjiri pipi. Saat itu juga aku putuskan untuk pergi kesana sendiri.
Ke dufan. Aku ingin menepati janji kami. Walaupun Ares tidak ada, setidaknya aku
sendiri yang akan pergi kesana. Aku rasa Ares pasti ikut senang kalau aku bisa
menciptakan impian kami berdua.
Pukul 07.00 malam aku pergi sendiri
menuju Jakarta Utara. Mobil jazz putihku melaju perlahan menyusuri jalanan
Jakarta. Suasana tahun baru sangat kental dengan deretan penjual terompet di
sepanjang jalan. Walaupun tahun baru, tetapi jalanan Jakarta lengang. Banyak
orang Jakarta yang sudah pergi ke Anyer dan Puncak untuk malam tahun baruan
disana. Udara ancol mulai terasa di sepanjang kolam hijau yang tidak pernah
kering itu. Kerlip bintang beradu dengan lampu-lampu jalanan. Malam itu juga terang
bulan, seperti malam tahun lalu saat aku dan Ares masih bersama.
Seperti orang yang sedang tidak
nafsu makan, begitu sampai disana aku hanya terduduk, menunggu tengah malam. Tidak
ada satupun wahana yang menggodaku malam itu. Padahal mereka dapat dimainkan
sebelum tengah malam tiba. Saat itu aku hanya bisa berangan-angan jika saja
Ares masih ada, pasti malam ini semakin indah. Jika saja Ares ada disini, aku
akan mendekapnya dan tak ingin aku lepas. Aku sedikit menyesali perpisahan
kami. Seharusnya aku tidak memintanya untuk mengantarkanku ke toko buku pada
waktu itu. Seandainya waktu bisa di ulang, aku tidak akan membiarkan Ares
pergi. Pikiranku melayang-layang sampai akhirnya aku putuskan untuk membeli
beberapa makanan ringan dan minuman sebagai penyegar pikiran.
Dinginnya udara malam mulai
menyulam tubuhku dari ujung kaki hingga kepala. Beberapa waktu aku sempatkan
mata ini untuk melihat jam tangan kesayanganku. Jam ini adalah hadiah ulang
tahun dari Ares. Ah! Aku mengingatnya lagi. “Tuhan, aku merindukan Ares..”
ungapku dalam hati.
Sudah dua jam aku duduk dan makan
beberapa keping biskuit cokelat dengan segelas cokelat hangat, sepertinya aku
mulai bosan. Semuanya terasa hambar, bahkan cokelat mahal pun seperti tidak ada
rasanya. Sekedar jalan-jalan dulu disekitar sini rasanya dapat membantu
menghilangkan rasa jenuhku.
Dalam langkahku, tanpa sengaja aku
menghalangi lensa kamera seseorang. Tampaknya seseorang itu akan mengambil foto
teman-temannya yang sudah berpose didepan sebuah wahana.
“Maaf Mbak, saya mau ambil foto”.
“Oh, iya, maaf Mas.” Jawabku seraya melihat ke arah wajanya,
dan.. lelaki itu tampak seperti..
“Ares?”
“Kenapa Mbak?”
“Oh.. tidak Mas, maaf”
Astaga Tuhan, ia mirip sekali
dengan Ares. Matanya, rambutnya, bibirnya, badannya, cara berpakaiannya. Ah!
Tidak! Ares sudah tidak ada. Aku berusaha meyakinkan diri agar pikiranku keluar
dari kejadian aneh yang baru saja kutemui. Ah! Aku berusaha tidak perduli.
“Ares sudah tidak ada. Jangan berpikir macam-macam, Reiyas!” ungkapku dalam
hati seraya melangkahkan kembali sepasang kaki yang mulai lunglai ini.
Lima menit lagi menuju malam
pergantian tahun. Aku sudah bersiap-siap di depan panggung hiburan yang
tepatnya tidak jauh dari bianglala. Tempatnya cukup luas sehingga dapat leluasa
melihat ke arah langit. Ya, tempat yang pas untuk melihat kembang api dufan
seperti yang pernah diceritakan Ares.
Lamunanku dikejutkan oleh seseorang
yang menyapaku dengan ramah. “Malam tahun baru sendirian aja Mbak?” Ujar lelaki
yang tadi sempat aku temui didepan sebuah wahana. Ya, lelaki yang tadi sedang
mengambil foto teman-temannya. Lelaki yang mirip sekali dengan Ares. Lelaki itu
terlihat berpisah beberapa jarak dengan teman-temannya. Aku yang terkejut tidak
dapat mengeluarkan kata-kata.
“Mbak, maaf saya membuat Anda kaget
ya?” Sapanya lagi dengan sedikit wajah humoris.
“Oh, emm, iya, eh, nggak, nggak apa-apa kok Mas.” Aku sangat salah
tingkah dibuatnya.
“Mbak sendirian aja?”
“I..iya.” Jawabku kaku.
“Oh ya, perkenalkan Mbak, nama saya..
Ares..”
***
@pitajoe_
2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar