Minggu, 08 Desember 2013

HAPPY NEW YEAR, ARES

Oleh : pitajoe

“Kembang apinya bagus banget ya Res.”
“Tapi tadi itu belum seberapa Rei. Yang mantep itu kembang api di dufan, Ancol. Tepat jam 00.00 di pergantian tahun, kembang apinya meluncur membentuk huruf D-U-F-A-N dan tulisannya hilang dalam waktu yang lama banget.”
“Yahh.. Kamu bikin aku jadi pingin lihat Res. Emangnya kamu udah pernah lihat? Hmm.. sama siapa?”
“Hehehe aku diceritain temanku sayang, jangan cemburu dulu dong.”
“Ah kamu! Aku kira kamu udah lihat.”
“Aku belum lihat Reiyas sayang, gimana kalau tahun depan kita lihat sama-sama. Kita merayakan tahun baru di dufan. Setuju?”
“Serius dong Res..”
“Iya serius. Pokoknya aku janji..”
            Seyumku tak terbendung dikala itu. Percakapan seusai malam pergantian tahun lalu di pinggir jalan tol Cibubur  yang tidak akan pernah aku lupakan. Betapa percikan kembang api malam itu menjanjikan. Sinarnya melebur bersama terangnya bintang-bintang. Menemani kebersamaan kami dibawah indahnya bulan bulat.  Itulah kali pertama kami melihat perayaan malam pergantian tahun bersama, setelah sebelumnya kami menjalin hubungan sebelas bulan.
Lima bulan yang lalu ares menjemputku ke rumah. Ia akan mengantarkanku ke sebuah toko buku. Sesampainya dirumahku, aku sedikit terkejut dengan penampilannya. Ares, lelaki yang sangat ku cintai itu sangat terlihat beda dari biasanya. Kulitnya yang putih tampak segar dengan kaos krem yang dibalut kemeja kotak-kotak berwarna biru muda dan hijau dengan sedikit polet garis hitam. Bawahannya juga rapi. Jeans biru tua gelap dengan sepatu sneakers krem. Ares yang kukenal biasanya untuk pergi ke toko buku saja ia akan berpakaian santai dengan baju kaos, celana pendek dan sandalnya. Selain cara berpakaian, sorot matanya juga tidak seperti biasa. Seperti ingin mengatakan sesuatu yang sulit di ungkapkan. Tetapi aku tidak peduli. Yang aku rasa, aku senang, ia terlihat lebih tampan dari biasanya.
Sesampainya disana, Ares tidak banyak bicara. Ia hanya melontarkan beberapa kata yang dianggapnya penting saja. Wajahnya sendu namun tatapannya kosong. Bibirnya selalu menyungging senyum setiap kali kami saling bertatapan. Di setiap kesempatan juga ia selalu menggenggam erat tanganku. firasatku terus berputar dan bertanya-tanya ada apa sebenarnya dengan Ares.
Di perjalanan pulang, Ares yang selalu membahas perkembangan musiknya di atas motor, kini seperti tidak punya hal baru yang dapat dibahas. Ares yang selalu memberi candaan segar kini seakan kehabisan akal. Biasanya memang, anak band seperti Ares adalah orang-orang yang humoris. Tetapi mengapa, ketika itu ia terlihat aneh bagiku.
Jantungku berdegup kencang di perempatan saat perjalanan kami terhenti oleh lampu merah. Selama enam puluh detik pikiran ini tidak karuan. Aku berusaha menenangkan pikiran dan hatiku. Aku pejamkan kedua mataku agar aku merasa semuanya baik-baik saja. Ku dekap erat tubuh Ares yang lunglai itu di atas motor. Tangan kirinya melepas stang motor dan mengusap jemariku. Aku sangat merasakan kasih sayang lewat tangan lembutnya .Ternyata enam puluh detik waktu yang tersedia disana untuk terakhir kalinya aku mendekap erat tubuh Ares. Karena setelah lampu hijau menyala, sebuah truk kontrainer melaju cepat dari jalur lain yang seharusnya berhenti. Kontrainer yang menerobos lampu merah itu juga menerobos motor Ares dengan hebatnya. Aku sempat tidak sadarkan diri saat itu.
Aku baru sadarkan diri setelah dua hari mengalami koma di rumah sakit. Begitu tersadar, aku mendapati berita bahwa Ares sudah tidak ada. Ia meninggal langsung di tempat kejadian. Mendengar hal itu badanku lemas seperti akan kembali koma. Pikiranku melayang entah kemana. Hatiku mengejang. Kerongkonganku kering sekering-keringnya. Aku tidak percaya, aku hanya bisa menangis, menangis dan menangis saat itu.
Tak sempat aku melihat proses pemakaman Ares di tempat peristirahatan terakhirnya karena kondisi tubuhku yang belum pulih. Kata dokter, aku mengalami benturan hebat di tengkuk belakang dan tulang betis. Hampir saja aku mengalami kelumpuhan. Namun Tuhan masih memberikanku secercah nyawa lagi. Tuhan masih sayang kepadaku. Tetapi mengapa Ares harus pergi? Mengapa Tuhan mengambil Ares disaat aku tidak ingin sedetikpun melepaskannya? Takdir Tuhan memang tidak dapat diperkirakan manusia.
Janji untuk melihat indahnya malam pergantian tahun bersama Ares di tahun ini harus terkubur bersama dukaku. Setelah maut yang merenggut nyawa kekasihku datang dengan raut sendu, yang tersisa hanyalah kepingan kenangan manis bersamanya di setiap sudut kota.
Malam ini adalah malam tahun baru. Sudah lima bulan Ares pergi namun wajah penuh kasih itu masih bisa aku rasakan. “Sayang, malam ini seharusnya kita melihat perayaan malam tahun baru di dufan…” Aku tidak bisa menahan segala rasa sedih yang mendekapku begitu erat. Lagi-lagi air mata ini membanjiri pipi. Saat itu juga aku putuskan untuk pergi kesana sendiri. Ke dufan. Aku ingin menepati janji kami. Walaupun Ares tidak ada, setidaknya aku sendiri yang akan pergi kesana. Aku rasa Ares pasti ikut senang kalau aku bisa menciptakan impian kami berdua.
Pukul 07.00 malam aku pergi sendiri menuju Jakarta Utara. Mobil jazz putihku melaju perlahan menyusuri jalanan Jakarta. Suasana tahun baru sangat kental dengan deretan penjual terompet di sepanjang jalan. Walaupun tahun baru, tetapi jalanan Jakarta lengang. Banyak orang Jakarta yang sudah pergi ke Anyer dan Puncak untuk malam tahun baruan disana. Udara ancol mulai terasa di sepanjang kolam hijau yang tidak pernah kering itu. Kerlip bintang beradu dengan lampu-lampu jalanan. Malam itu juga terang bulan, seperti malam tahun lalu saat aku dan Ares masih bersama.
Seperti orang yang sedang tidak nafsu makan, begitu sampai disana aku hanya terduduk, menunggu tengah malam. Tidak ada satupun wahana yang menggodaku malam itu. Padahal mereka dapat dimainkan sebelum tengah malam tiba. Saat itu aku hanya bisa berangan-angan jika saja Ares masih ada, pasti malam ini semakin indah. Jika saja Ares ada disini, aku akan mendekapnya dan tak ingin aku lepas. Aku sedikit menyesali perpisahan kami. Seharusnya aku tidak memintanya untuk mengantarkanku ke toko buku pada waktu itu. Seandainya waktu bisa di ulang, aku tidak akan membiarkan Ares pergi. Pikiranku melayang-layang sampai akhirnya aku putuskan untuk membeli beberapa makanan ringan dan minuman sebagai penyegar pikiran.
Dinginnya udara malam mulai menyulam tubuhku dari ujung kaki hingga kepala. Beberapa waktu aku sempatkan mata ini untuk melihat jam tangan kesayanganku. Jam ini adalah hadiah ulang tahun dari Ares. Ah! Aku mengingatnya lagi. “Tuhan, aku merindukan Ares..” ungapku dalam hati.
Sudah dua jam aku duduk dan makan beberapa keping biskuit cokelat dengan segelas cokelat hangat, sepertinya aku mulai bosan. Semuanya terasa hambar, bahkan cokelat mahal pun seperti tidak ada rasanya. Sekedar jalan-jalan dulu disekitar sini rasanya dapat membantu menghilangkan rasa jenuhku.
Dalam langkahku, tanpa sengaja aku menghalangi lensa kamera seseorang. Tampaknya seseorang itu akan mengambil foto teman-temannya yang sudah berpose didepan sebuah wahana.
“Maaf Mbak, saya mau ambil foto”.
“Oh, iya, maaf Mas.” Jawabku seraya melihat ke arah wajanya, dan.. lelaki itu tampak seperti..
“Ares?”
“Kenapa Mbak?”
“Oh.. tidak Mas, maaf”
Astaga Tuhan, ia mirip sekali dengan Ares. Matanya, rambutnya, bibirnya, badannya, cara berpakaiannya. Ah! Tidak! Ares sudah tidak ada. Aku berusaha meyakinkan diri agar pikiranku keluar dari kejadian aneh yang baru saja kutemui. Ah! Aku berusaha tidak perduli. “Ares sudah tidak ada. Jangan berpikir macam-macam, Reiyas!” ungkapku dalam hati seraya melangkahkan kembali sepasang kaki yang mulai lunglai ini.
Lima menit lagi menuju malam pergantian tahun. Aku sudah bersiap-siap di depan panggung hiburan yang tepatnya tidak jauh dari bianglala. Tempatnya cukup luas sehingga dapat leluasa melihat ke arah langit. Ya, tempat yang pas untuk melihat kembang api dufan seperti yang pernah diceritakan Ares.
Lamunanku dikejutkan oleh seseorang yang menyapaku dengan ramah. “Malam tahun baru sendirian aja Mbak?” Ujar lelaki yang tadi sempat aku temui didepan sebuah wahana. Ya, lelaki yang tadi sedang mengambil foto teman-temannya. Lelaki yang mirip sekali dengan Ares. Lelaki itu terlihat berpisah beberapa jarak dengan teman-temannya. Aku yang terkejut tidak dapat mengeluarkan kata-kata.
“Mbak, maaf saya membuat Anda kaget ya?” Sapanya lagi dengan sedikit wajah humoris.
“Oh, emm, iya, eh, nggak, nggak apa-apa kok Mas.” Aku sangat salah tingkah dibuatnya.
“Mbak sendirian aja?”
“I..iya.” Jawabku kaku.
“Oh ya, perkenalkan Mbak, nama saya.. Ares..”
***

@pitajoe_
2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar