Rabu, 11 Desember 2013

TUKANG CENDOL TINGKAT SARJANA

Oleh : pitajoe

Saya tau. Setiap tengah hari pasti orang-orang mencari yang segar-segar. Sekitar jam sebelas sampai jam dua lah. Minuman segar yang dicari di siang bolong itu biasanya yang dingin, manis dan yang pasti murah. Bukan, bukan es buah. Susah kalau untuk dijual keliling. Orang-orang yang berjualan es buah biasanya gerobaknya mangkal. Oh..bukan, bukan asinan. Asinan bikin kenyang dan tidak dingin. Ini mah yang ringan saja, cuma sebagai pelepas dahaga tetapi bisa mengganjal lapar. Ya betul, semacam es dawet, tetapi ini yang sederhananya. Nah! Cendol. Karena itu saya berjualan cendol. Naik apa? Tidak naik apa-apa, saya hanya berjalan kaki. Dengan gerobak biru itu tuh. Ya. Maklum saja, saya tidak punya banyak uang untuk membuat gerobak sepeda. Mungkin nanti kalau uang saya sudah terkumpul banyak. Ya, cendolnya saya buat sendiri. Karena kan kalau yang dijual dipasaran itu sudah banyak ditambah-tambah bahan pengawet. Oh kalau gula saya pakai gula aren. Iya memang, kan saya tambahkan kinca nangka juga, jadinya harum.
Oh tidak, saya niat berteduh saja Pak. Tidak, terimakasih Pak. Saya masih kenyang. Maaf ngomong-ngomong Pak, ini jam berapa ya? Oh, jam empat ya. Walaaah, sudah jam empat sore tapi cuaca masih panas saja ya. Iya, sekarang ini dunia sepertinya sudah mau kiamat Pak. Ya jangan dulu lah, masa Bapak pasrah betul. Saya belum hatam bertobat Pak, hehe. Ya sebenarnya dulu saya ini bukan orang yang dekat dengan Tuhan Pak.
Saya ini pernah kuliah. Saya sarjana hukum. Ya betul memang, disini juga ada universitas. Tetapi saya tidak kuliah disini, dulu saya kuliah di Jakarta. Ya memang, biaya hidupnya besar. Alhamdulillah sih Pak, orangtua saya dulu memang orang yang berada. Tetapi ya begitulah, sayanya yang tidak bermoral. Ya begitulah, masa Bapak tidak mengerti. Namanya anak muda kalau tidak kuat iman bisa gagal jadi manusia, hehe.
Awalnya sih karena dulu itu saya punya banyak uang Pak. Teman-teman saya juga punya uang banyak. Kalau sedang jenuh dengan perkuliahan, kita selalu pergi ke klub malam. Minum-minum dan tidak jarang ‘main’ perempuan. Saat itu umur saya…sekitar dua puluh dua tahun, Pak. Ya, betul sekali. Namanya jauh dari orangtua, tidak ada yang mengontrol kelakuan saya. Makanya saya seperti itu. Sepertinya waktu itu saya tidak pernah merasa kekurangan suatu apapun. Hidup saya bebas, dan yang lebih buruknya, saya tidak segan-segan untuk berlaku kasar terhadap orang yang tidak saya suka. Beberapa kali satpam di kampus pernah saya pukuli, teman saya sendiri juga pernah saya hantam. Itu semua saya lakukan tanpa rasa takut terhadap siapa-siapa, tidak terkecuali kepada Tuhan. Saya merasa berkuasa.
Tidak Pak, tidak apa-apa. Saya hanya berbagi pengalaman saja kepada Bapak. Bapak sendiri berjualan disini sudah lama? Oh.. memangnya Bapak dan keluarga tinggal dimana? Oh begitu.. memangnya tidak sempit Pak disini? Tidak apa-apalah ya Pak, walaupun sempit-sempitan yang penting bisa kumpul keluarga. Oh kalau keluarga saya sudah tidak ada Pak, saya hanya hidup bertiga dengan  istri dan anak saya. Kami tinggal di belakang stasiun. Iya anak saya sekolah. Sekarang sudah kelas lima SD. Di SDN Mekar Jaya 2 Pak. Oh bapak lulusan situ? Walaah hehehe.
Tidak Pak, saya tidak cari pekerjaan lagi. sepertinya takdir saya memang menjadi pedagang es cendol. Mungkin karma kali Pak, karena dulu saya juga pernah menghancurkan gerobak cendol disamping tempat kuliah saya. Waktu itu kejadiannya saat saya pulang kuliah, saya mencari minuman segar. Saya lihat ada tukang cendol yang sedang dikerubungi banyak pembeli. Saya yang tidak suka mengantri akhirnya menerobos pembeli-pembeli itu dan saya dipojokkan oleh semuanya, termasuk mamang cendol yang waktu itu juga berkata “sabar dong Mas, yang lain juga antri, jangan main terobos begitu nanti gerobak saya hancur”. Saya yang pada waktu itu tidak terima akhirnya menggulingkan gerobak cendol yang berakhir dengan baku hantam dengan mamang cendol yang juga tidak terima atas perilaku saya. Sebenarnya memang salah saya, tetapi sifat saya yang pada waktu itu sangat brutal membuat saya kehilangan akal sehingga lagi-lagi saya bertindak kasar kepada orang yang tidak bersalah. Sampai saat ini saya sangat menyesali perbuatan itu Pak. Terkadang kalau ingat wajah tukang cendol itu, saya ingin sekali meminta ampun padanya.
Saya lulus tahun 1999 dan menikah tahun 2002 Pak. Sejak saya lulus, tidak ada satupun lamaran kerja saya yang tembus. Padahal waktu kuliah saya ingin sekali menjadi pengacara. Tetapi cita-cita saya tertutup dosa yang teramat besar. Dosa kepada kedua orangtua saya, kapada teman-teman saya, kepada satpam dikampus saya, kepada Tuhan, dan terlebih saya sangat-sangat merasa berdosa kepada mamang cendol disamping kampus saya. Menjadi pengangguran dengan waktu yang lama membuat saya sadar dengan kesalahan-kesalahan saya. Sampai pada akhirnya saya bekerja di Mutiara Bengkel perempatan Masjid itu Pak, begitu bekerja saya langsung menikah. Tetapi memang saya bukan orang teknik mesin, saya dipecat karena kerja yang tidak baik. Setelah itu istri saya yang sangat sabar itu mengajari saya membuat cendol dengan resep alaminya. Dan sampailah saya menjadi pedagang cendol sampai saat ini, hehe. Iya Pak, saya juga berharap seperti itu.
Baiklah Pak, saya pamit dulu. Oh tidak ngider lagi Pak, cendol saya kan sudah habis, jadi saya mau pulang, mau bikin cendol lagi untuk besok, hehe. Maaf nih Pak, saya sudah mengganggu. Terimakasih banyak loh Pak. Saya sudah diberi waktu untuk bercerita. Ya, itung-itung menemani sore Bapak diwarung daripada bengong menunggu pembeli, hehe. Iya Pak. Ya betul Pak, saya mau tobat. Saya pulang dulu Pak, mari Pak.

@pitajoe_
 Maret 2013


Tidak ada komentar:

Posting Komentar