Oleh : pitajoe
Saya tau. Setiap tengah hari pasti
orang-orang mencari yang segar-segar. Sekitar jam sebelas sampai jam dua lah.
Minuman segar yang dicari di siang bolong itu biasanya yang dingin, manis dan
yang pasti murah. Bukan, bukan es buah. Susah kalau untuk dijual keliling.
Orang-orang yang berjualan es buah biasanya gerobaknya mangkal. Oh..bukan,
bukan asinan. Asinan bikin kenyang dan tidak dingin. Ini mah yang ringan saja, cuma sebagai pelepas dahaga tetapi bisa
mengganjal lapar. Ya betul, semacam es dawet, tetapi ini yang sederhananya. Nah!
Cendol. Karena itu saya berjualan cendol. Naik apa? Tidak naik apa-apa, saya
hanya berjalan kaki. Dengan gerobak biru itu tuh. Ya. Maklum saja, saya tidak punya banyak uang untuk membuat gerobak sepeda. Mungkin nanti kalau uang saya sudah terkumpul
banyak. Ya, cendolnya saya buat sendiri. Karena kan kalau yang dijual dipasaran
itu sudah banyak ditambah-tambah bahan pengawet. Oh kalau gula saya pakai gula
aren. Iya memang, kan saya tambahkan kinca nangka juga, jadinya harum.
Oh tidak, saya niat berteduh saja Pak.
Tidak, terimakasih Pak. Saya masih kenyang. Maaf ngomong-ngomong Pak, ini jam berapa ya? Oh, jam empat ya. Walaaah,
sudah jam empat sore tapi cuaca masih panas saja ya. Iya, sekarang ini dunia
sepertinya sudah mau kiamat Pak. Ya jangan dulu lah, masa Bapak pasrah betul.
Saya belum hatam bertobat Pak, hehe. Ya sebenarnya dulu saya ini bukan orang
yang dekat dengan Tuhan Pak.
Saya ini pernah kuliah. Saya sarjana
hukum. Ya betul memang, disini juga ada universitas. Tetapi saya tidak kuliah
disini, dulu saya kuliah di Jakarta. Ya memang, biaya hidupnya besar.
Alhamdulillah sih Pak, orangtua saya
dulu memang orang yang berada. Tetapi ya begitulah, sayanya yang tidak
bermoral. Ya begitulah, masa Bapak tidak mengerti. Namanya anak muda kalau
tidak kuat iman bisa gagal jadi manusia, hehe.
Awalnya sih karena dulu itu saya punya banyak uang Pak. Teman-teman saya
juga punya uang banyak. Kalau sedang jenuh dengan perkuliahan, kita selalu
pergi ke klub malam. Minum-minum dan tidak jarang ‘main’ perempuan. Saat itu
umur saya…sekitar dua puluh dua tahun, Pak. Ya, betul sekali. Namanya jauh
dari orangtua, tidak ada yang mengontrol kelakuan saya. Makanya saya seperti
itu. Sepertinya waktu itu saya tidak pernah merasa kekurangan suatu apapun.
Hidup saya bebas, dan yang lebih buruknya, saya tidak segan-segan untuk berlaku
kasar terhadap orang yang tidak saya suka. Beberapa kali satpam di kampus
pernah saya pukuli, teman saya sendiri juga pernah saya hantam. Itu semua saya
lakukan tanpa rasa takut terhadap siapa-siapa, tidak terkecuali kepada Tuhan.
Saya merasa berkuasa.
Tidak Pak, tidak apa-apa. Saya hanya
berbagi pengalaman saja kepada Bapak. Bapak sendiri berjualan disini sudah
lama? Oh.. memangnya Bapak dan keluarga tinggal dimana? Oh begitu.. memangnya
tidak sempit Pak disini? Tidak apa-apalah ya Pak, walaupun sempit-sempitan yang
penting bisa kumpul keluarga. Oh kalau keluarga saya sudah tidak ada Pak, saya
hanya hidup bertiga dengan istri dan
anak saya. Kami tinggal di belakang stasiun. Iya anak saya sekolah. Sekarang
sudah kelas lima SD. Di SDN Mekar Jaya 2 Pak. Oh bapak lulusan situ? Walaah
hehehe.
Tidak Pak, saya tidak cari pekerjaan
lagi. sepertinya takdir saya memang menjadi pedagang es cendol. Mungkin karma
kali Pak, karena dulu saya juga pernah menghancurkan gerobak cendol disamping
tempat kuliah saya. Waktu itu kejadiannya saat saya pulang kuliah, saya mencari
minuman segar. Saya lihat ada tukang cendol yang sedang dikerubungi banyak
pembeli. Saya yang tidak suka mengantri akhirnya menerobos pembeli-pembeli itu
dan saya dipojokkan oleh semuanya, termasuk mamang cendol yang waktu itu juga
berkata “sabar dong Mas, yang lain juga antri, jangan main terobos begitu nanti
gerobak saya hancur”. Saya yang pada waktu itu tidak terima akhirnya
menggulingkan gerobak cendol yang berakhir dengan baku hantam dengan mamang
cendol yang juga tidak terima atas perilaku saya. Sebenarnya memang salah saya,
tetapi sifat saya yang pada waktu itu sangat brutal membuat saya kehilangan
akal sehingga lagi-lagi saya bertindak kasar kepada orang yang tidak bersalah.
Sampai saat ini saya sangat menyesali perbuatan itu Pak.
Terkadang kalau ingat wajah tukang cendol itu, saya ingin sekali meminta ampun
padanya.
Saya lulus tahun 1999 dan menikah tahun
2002 Pak. Sejak saya lulus, tidak ada satupun lamaran kerja saya yang tembus. Padahal
waktu kuliah saya ingin sekali menjadi pengacara. Tetapi cita-cita saya tertutup dosa yang teramat besar. Dosa kepada kedua orangtua saya,
kapada teman-teman saya, kepada satpam dikampus saya, kepada Tuhan, dan
terlebih saya sangat-sangat merasa berdosa kepada mamang cendol disamping
kampus saya. Menjadi pengangguran dengan waktu yang lama membuat saya sadar
dengan kesalahan-kesalahan saya. Sampai pada akhirnya saya bekerja di Mutiara
Bengkel perempatan Masjid itu Pak, begitu bekerja saya langsung menikah. Tetapi
memang saya bukan orang teknik mesin, saya dipecat karena kerja yang tidak
baik. Setelah itu istri saya yang sangat sabar itu mengajari saya membuat cendol
dengan resep alaminya. Dan sampailah saya menjadi pedagang cendol sampai saat
ini, hehe. Iya Pak, saya juga berharap seperti itu.
Baiklah Pak, saya pamit dulu. Oh tidak
ngider lagi Pak, cendol saya kan sudah habis, jadi saya mau pulang, mau bikin cendol lagi untuk besok, hehe. Maaf nih Pak, saya sudah mengganggu.
Terimakasih banyak loh Pak. Saya sudah diberi waktu untuk bercerita. Ya,
itung-itung menemani sore Bapak diwarung daripada bengong menunggu pembeli,
hehe. Iya Pak. Ya betul Pak, saya mau tobat. Saya pulang dulu Pak, mari Pak.
@pitajoe_
Maret 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar