oleh : pitajoe
“Sudah jam sepuluh belum datang juga.. mana nih ya mamangnya..” Ujar Ibu Marini kepada anaknya yang sedang menangis. “Sabar ya sayangku.. anak mama pinter, jangan nangis terus sayang..
cup..cup..sebentar lagi juga datang odong-odongnya.” Dengan lembut Ibu Marini kembali berusaha menenangkan
buah hatinya yang terus menangis di pangkuannya. Maklum, anak kecil seusia Gio
memang belum mengerti rasa sabar. Usianya yang baru dua tahun setengah itu
hanya bisa merengek, meminta odong-odong yang menjadi langganannya setiap jam sepuluh pagi itu cepat datang. Gio terus menangis dan menunjuk-nunjuk
pintu pagar rumah. “Mamang odong-odong itu mungkin masih di komplek sebelah.”
Ujar Ibu Marini sambil menggendong Gio mendekati pagar rumahnya yang besar bak
istana.
Sebut
saja Mang Sahid. Lelaki berusia sekitar 62 tahun yang selalu pergi pada pagi hari
dengan odong-odong yang ia buat sendiri dari sisa-sisa bahan yang ia peroleh
dari tong-tong sampah disekitar komplek Ibu Marini. Sebelum menjadi mamang
odong-odong, Mang Sahid adalah pemulung di komplek Ibu Marini. Karena itulah
Ibu Marini sudah mengenal Mang Sahid dari sejak ia tinggal di komplek tersebut.
Mang Sahid terkenal sebagai orang yang baik. Tidak seorangpun di komplek itu
yang resah akan kedatangan Mang Sahid untuk memulung di tong-tong sampah
mereka. Malah, ada beberapa di antara mereka yang langsung memanggil Mang Sahid
ketika lewat rumahnya untuk memberikan beberapa stel baju bekas yang masih
layak pakai dan barang-barang bekas untuk Mang Sahid.
“Nah.. itu dia..” Dengan semangat Ibu Marini memberitau Gio yang sudah tidak sabar ingin menunggang odong-odong Mang
Sahid. Seperti biasa, Ibu Marini memberi bayaran lebih dari tarif wajarnya Mang
Sahid.
“Ambil
saja kembaliannya, Mang. Mungkin bisa disimpan.” Ujar Ibu Marini seraya
memberikan selembar uang kertas berwarna hijau yang bertuliskan nominal angka
Rp 20.000.
“Tapi Bu, ini besar sekali..” dengan sedikit rasa segan Mang Sahid menerima
uang tersebut setelah Ibu Marini sedikit memaksa.
Kemudian tidak lupa Mang Sahid dan mengucapkan terima kasih kepada Ibu Marini.
Sambil
mengayuh, wajah Mang Sahid ketika itu sangat berseri-seri. Ia teringat akan
anaknya dirumah yang sedang menunggu hasil jerih payahnya
untuk berobat. Anak Mang Sahid hanya satu. Istrinya sudah meninggal sepuluh
tahun yang lalu. Semasa istrinya masih ada, Mang Sahid masih bekerja sebagai
pegawai swasta disuatu perusahaan. Pada saat itu kehidupan Mang Sahid masih
dapat dikatakan layak, bahkan segala kebutuhan anak dan istrinya dapat
terpenuhi.
Saat
itu Mang Sahid berada di usia 43 tahun, anaknya yang masih duduk di bangku
kelas 6 sekolah dasar itu terlihat bahagia setiap kali akhir bulan karena
ayahnya yang baik hati itu selalu memberinya hadiah setelah gajian. Hadiah itu
dapat berupa mainan, alat sekolah, atau dengan jalan-jalan bersama ke suatu
tempat rekreasi. Namun, diluar pengetahuan anak dan istrinya, Mang Sahid
menilap bonus jerih payahnya untuk digunakan diluar bersama teman-teman
sepemahamannya, dengan berjudi, mabuk-mabukkan, dan ‘main’ perempuan. Itu semua
dilakukannya dengan bersih, tanpa sepengetahuan istri dan anaknya. Mungkin juga
kebaikannya disetiap akhir bulan itu merupakan kedok belaka. Istrinya pun tidak
menyadari bahwa cintanya sudah dihianati oleh Sahidullah yang kini akrab
dipanggil Mang Sahid.
Pernah
suatu ketika, istrinya sedang pergi ke Tanah Abang bersama rombongan ibu-ibu
arisan komplek. Katanya ingin belanja bersama, namanya juga ibu-ibu komplek,
kebanyakan diantaranya adalah orang yang ‘latah’ kalau ada produk keluaran
baru. Entah itu pakaian, kosmetik, makanan, alat dapur, dan kawan-kawan gaya
hidup lainnnya yang sama-sama menguras uang.
Istrinya
pergi pagi-pagi benar, dan anaknya berangkat sekolah seperti biasanya, pergi
pukul 07.00 dan pulang pukul 16.30 dilanjutkan les matematika sampai jam 19.30.
Sahid yang sedang kelaparan dikantor pada
jam istirahatnya itu
akhirnya pergi ke kantin untuk mengisi perut. Seperti jam makan siang biasanya,
Sahid makan siang ditemani wanita warung sambil bercumbu
mesra.
Hal yang demikian terus terjadi
sampai pada akhirnya istri Mang Sahid mengetahui segalanya dan jatuh sakit.
Karena tidak kuat menerima kenyataan, istri Mang Sahid meninggal dunia di
usianya yang belum terlalu senja. Rasa menyesal yang sangat hebat dirasakan
oleh Mang Sahid sepulang istrinya kepada Yang Kuasa. Terlebih lagi Tuhan
menghentikan segala nikmat materi yang dimiliki Mang Sahid. Hal tersebut
membuatnya bertobat setobat-tobatnya. Tinggallah harta yang tersisa hanya anak
satu-satunya. Kini mang Sahid tinggal di sebuah rumah yang terbuat dari bilik
mambu dengan serba kekurangan. Tidak hanya itu, Tuhan juga memberi sebuah
penyakit kepada anak kesayangannya, penyakit yang bisa dikatakan berat karena
memerlukan biaya yang tidak sedikit untuk mengobatinya. Sejak itu Mang Sahid
memulung sampah dari komplek ke komplek yang tidak jauh dari pemukimannya.
Sampai akhirnya terkumpul sejumlah uang dan beberapa barang bekas pemberian
orang-orang komplek yang kemudian dirakitnya menjadi sebuah alat pencari rezeki
yang bernama odong-odong. Sebuah kemedi bergoyang yang di desain khusus untuk
anak-anak.
Sampai saat ini, sudah lima tahun
Mang Sahid bekerja mengayuh odong-odong setiap harinya. Rasa bersalah pada
keluarga yang setiap malam masih meraung-raung dihatinya membuat ia semakin
kuat, tabah menghadapi kenyataan, dan bersikap baik hati terhadap sesama. Sikap
baiknyalah yang kini membuat ibu-ibu dan orang-orang komplek berbagi kasih dan
berbelas kasih pada Mang Sahid. Mungkin yang mereka nilai dari seorang Mang Sahid
hanyalah apa yang mereka lihat saat ini. Yakni penderitaan dan kekurangan yang
dimiliki Mang Sahid, tanpa mereka tau kondisi kehidupannya yang jauh sebelum
seperti ini.
@pitajoe_
Maret 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar