Rabu, 11 Desember 2013

SEJARAH (ODONG-ODONG) MANG SAHID

oleh : pitajoe

Sudah jam sepuluh belum datang juga.. mana nih ya mamangnya..” Ujar Ibu Marini kepada anaknya yang sedang menangis. “Sabar ya sayangku.. anak mama pinter, jangan nangis terus sayang.. cup..cup..sebentar lagi juga datang odong-odongnya.Dengan lembut Ibu Marini kembali  berusaha menenangkan buah hatinya yang terus menangis di pangkuannya. Maklum, anak kecil seusia Gio memang belum mengerti rasa sabar. Usianya yang baru dua tahun setengah itu hanya bisa merengek, meminta odong-odong yang menjadi langganannya setiap jam sepuluh pagi itu cepat datang. Gio terus menangis dan menunjuk-nunjuk pintu pagar rumah. “Mamang odong-odong itu mungkin masih di komplek sebelah.” Ujar Ibu Marini sambil menggendong Gio mendekati pagar rumahnya yang besar bak istana.
Sebut saja Mang Sahid. Lelaki berusia sekitar 62 tahun yang selalu pergi pada pagi hari dengan odong-odong yang ia buat sendiri dari sisa-sisa bahan yang ia peroleh dari tong-tong sampah disekitar komplek Ibu Marini. Sebelum menjadi mamang odong-odong, Mang Sahid adalah pemulung di komplek Ibu Marini. Karena itulah Ibu Marini sudah mengenal Mang Sahid dari sejak ia tinggal di komplek tersebut. Mang Sahid terkenal sebagai orang yang baik. Tidak seorangpun di komplek itu yang resah akan kedatangan Mang Sahid untuk memulung di tong-tong sampah mereka. Malah, ada beberapa di antara mereka yang langsung memanggil Mang Sahid ketika lewat rumahnya untuk memberikan beberapa stel baju bekas yang masih layak pakai dan barang-barang bekas untuk Mang Sahid.
Nah.. itu dia..” Dengan semangat Ibu Marini memberitau Gio yang sudah tidak sabar ingin menunggang odong-odong Mang Sahid. Seperti biasa, Ibu Marini memberi bayaran lebih dari tarif wajarnya Mang Sahid.
“Ambil saja kembaliannya, Mang. Mungkin bisa disimpan.” Ujar Ibu Marini seraya memberikan selembar uang kertas berwarna hijau yang bertuliskan nominal angka Rp 20.000.

Tapi Bu, ini besar sekali..” dengan sedikit rasa segan Mang Sahid menerima uang tersebut setelah Ibu Marini sedikit memaksa. Kemudian tidak lupa Mang Sahid dan mengucapkan terima kasih kepada Ibu Marini.
Sambil mengayuh, wajah Mang Sahid ketika itu sangat berseri-seri. Ia teringat akan anaknya dirumah yang sedang menunggu hasil jerih payahnya untuk berobat. Anak Mang Sahid hanya satu. Istrinya sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Semasa istrinya masih ada, Mang Sahid masih bekerja sebagai pegawai swasta disuatu perusahaan. Pada saat itu kehidupan Mang Sahid masih dapat dikatakan layak, bahkan segala kebutuhan anak dan istrinya dapat terpenuhi.
Saat itu Mang Sahid berada di usia 43 tahun, anaknya yang masih duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar itu terlihat bahagia setiap kali akhir bulan karena ayahnya yang baik hati itu selalu memberinya hadiah setelah gajian. Hadiah itu dapat berupa mainan, alat sekolah, atau dengan jalan-jalan bersama ke suatu tempat rekreasi. Namun, diluar pengetahuan anak dan istrinya, Mang Sahid menilap bonus jerih payahnya untuk digunakan diluar bersama teman-teman sepemahamannya, dengan berjudi, mabuk-mabukkan, dan ‘main’ perempuan. Itu semua dilakukannya dengan bersih, tanpa sepengetahuan istri dan anaknya. Mungkin juga kebaikannya disetiap akhir bulan itu merupakan kedok belaka. Istrinya pun tidak menyadari bahwa cintanya sudah dihianati oleh Sahidullah yang kini akrab dipanggil Mang Sahid.
Pernah suatu ketika, istrinya sedang pergi ke Tanah Abang bersama rombongan ibu-ibu arisan komplek. Katanya ingin belanja bersama, namanya juga ibu-ibu komplek, kebanyakan diantaranya adalah orang yang ‘latah’ kalau ada produk keluaran baru. Entah itu pakaian, kosmetik, makanan, alat dapur, dan kawan-kawan gaya hidup lainnnya yang sama-sama menguras uang.
Istrinya pergi pagi-pagi benar, dan anaknya berangkat sekolah seperti biasanya, pergi pukul 07.00 dan pulang pukul 16.30 dilanjutkan les matematika sampai jam 19.30. Sahid yang sedang kelaparan dikantor pada jam istirahatnya itu akhirnya pergi ke kantin untuk mengisi perut. Seperti jam makan siang biasanya, Sahid makan siang ditemani wanita warung sambil bercumbu mesra.
Hal yang demikian terus terjadi sampai pada akhirnya istri Mang Sahid mengetahui segalanya dan jatuh sakit. Karena tidak kuat menerima kenyataan, istri Mang Sahid meninggal dunia di usianya yang belum terlalu senja. Rasa menyesal yang sangat hebat dirasakan oleh Mang Sahid sepulang istrinya kepada Yang Kuasa. Terlebih lagi Tuhan menghentikan segala nikmat materi yang dimiliki Mang Sahid. Hal tersebut membuatnya bertobat setobat-tobatnya. Tinggallah harta yang tersisa hanya anak satu-satunya. Kini mang Sahid tinggal di sebuah rumah yang terbuat dari bilik mambu dengan serba kekurangan. Tidak hanya itu, Tuhan juga memberi sebuah penyakit kepada anak kesayangannya, penyakit yang bisa dikatakan berat karena memerlukan biaya yang tidak sedikit untuk mengobatinya. Sejak itu Mang Sahid memulung sampah dari komplek ke komplek yang tidak jauh dari pemukimannya. Sampai akhirnya terkumpul sejumlah uang dan beberapa barang bekas pemberian orang-orang komplek yang kemudian dirakitnya menjadi sebuah alat pencari rezeki yang bernama odong-odong. Sebuah kemedi bergoyang yang di desain khusus untuk anak-anak.
Sampai saat ini, sudah lima tahun Mang Sahid bekerja mengayuh odong-odong setiap harinya. Rasa bersalah pada keluarga yang setiap malam masih meraung-raung dihatinya membuat ia semakin kuat, tabah menghadapi kenyataan, dan bersikap baik hati terhadap sesama. Sikap baiknyalah yang kini membuat ibu-ibu dan orang-orang komplek berbagi kasih dan berbelas kasih pada Mang Sahid. Mungkin yang mereka nilai dari seorang Mang Sahid hanyalah apa yang mereka lihat saat ini. Yakni penderitaan dan kekurangan yang dimiliki Mang Sahid, tanpa mereka tau kondisi kehidupannya yang jauh sebelum seperti ini.


@pitajoe_

Maret 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar