Oleh : pitajoe
Bau bebatuan di tengah hari itu
sangat keras, sekeras kerja mereka. Sinar matahari yang terik tidak membuat
mereka berhenti untuk sekedar berteduh. Para penambang kapur disana memang
selalu bekerja dengan semangat walau sebenarnya hati mereka lunglai, haus dan
lapar. Para penambang kapur di gunung ini usianya kira-kira 45-65 tahun. Usia yang tidak lagi muda, namun
kekuatannya masih sama bahkan lebih dari orang muda.
Seperti biasanya, jam empat sore
Joni – salah satu penambang kapur– pulang dengan membawa hasil kerja hari ini. Hasil
yang tidak sebanding dengan kulit kelangnya, keringat disetiap detiknya, hidungnya
yang berdebu, telapak kaki tanpa alasnya, telapak tangannya yang kapalan, perut
dan kerongkongannya yang kering, dan juga nyawa sebagai taruhannya. Apalagi
usianya kini sudah 63 tahun. Usia yang cukup tua jika dibandingkan dengan
teman-teman penambang yang lain.
“Mak,
ini hasilku hari ini. Aku capek, mau istirahat.”
“Ya Pak, istirahatlah. Teh manisnya sudah kutaruh disamping ranjang.”
Joni
pergi ke kamar tidurnya yang mungkin hanya berukuran tiga kali WC umum. Seorang wanita bertubuh pendek dengan kain samping itu
adalah istri Joni. Asnah namanya. Kira-kira umurnya 50 tahun. Asnah kemudian
membuka gulungan uang pemberian Joni tadi, sementara suara batuk Joni dikamar
terdengar sangat kencang. Jelas saja pasti terdengar, rumahnya hanya sepetak dan
terbuat dari bilik bambu.
“Harusnya pemerentah merhatiin pegawean orang tambang ya. Dikasih
sepatu, kek. Helm, pos buat neduh..”
“Nje’ Mak, uwislah ora opo. Masih bisa megawe ge sukur.” Joni menimpali sambil
diiringi suara batuknya yang keras.
“Sukur emang, tapi perih liat bapak
jadi sakit begitu, besok cari kerjaan lain saja”
“Ora!”
“Pak, Mak ora kepengen liat bapak
sakit-sakitan.”
“Ora, ora, o…” suara Joni terpotong
batuk yang sangat hebat. Kemudian..
“Mak, darah!”
Asnah sontak berlari menghampiri
Joni di kamar. “Astagfirullahaladzim Pak!” darah kental berwarna merah marun
kecoklat-coklatan tersangga di telapak tangan Joni. Terlihat sisa-sisa darah di
sekeliling mulutnya sebagai tanda bahwa dari sanalah darah itu keluar. Asnah
menangis kemudian memeluk Joni dengan erat sesaat sebelum akhirnya ia
membersihkah seluruh darah yang ada disana. Kemudian Asnah memberi Joni segelas
teh manis yang telah dibuatkan sebelumnya.
Joni duduk bersandar dengan kaki
selonjoran diatas ranjangnya. Sementara Asnah sibuk menghangatkan wajah, pundak,
dan tengkuk Joni dengan kain bekas baju yang dicelupkan kedalam baskom berisi
air hangat. Tidak lama kemudian dengan penuh rasa kasih sayang, Asnah memijat
kaki Joni perlahan. Tidak ada obat yang dapat Asnah berikan kepada suami
tercintanya. Tidak ada tetangga yang dapat diandalkan karena semuanya bernasib
sama.
Sinar terang bulan di luar masuk ke
dalam kamar lewat beberapa celah biliknya. Malam itu hening sehening-heningnya.
Padahal biasanya anak-anak kecil ramai bermain dibawah bulan purnama.
Joni telah tertidur pulas disamping
Asnah. Tetapi mata Asnah masih terbuka lebar. Melihat langit-langit yang
tertutup latu. Beberapa waktu ia sempatkan diri untuk melihat ke arah suaminya,
memeriksa apakah suaminya dalam keadaan baik-baik saja. Entah dalam penglihatan
yang ke berapa, Asnah menemukan suaminya mengeluarkan darah dari lubang hidung.
Tanpa membangunkannya, Asnah mengambil kain bekas kompres tadi dan menghapus
noda darah di bawah lubang hidung suaminya dengan perlahan.
Hampir subuh, Asnah yang masih terjaga
mendengar suara langkah kaki ke arah rumahnya. Kemudian terdengar langkah kaki
itu terhenti namun langsung disambung suara yang memanggil-manggil namanya juga
nama suaminya. Sepertinya suara tetangga. Itu adalah suara Mas Pri. Asnah
beranjak pergi dari samping suaminya menuju pintu.
“Bang Jon! Asnah! Bang!”
“Nje Mas Pri. Ono opo?”
“Tolong Asnah, istriku mau
melahirkan!”
“Anu Mas Pri, Joni sedang sakit ora
bisa …” pembicaraan Asnah terpotong oleh Joni yang keluar kamar, menghampiri
keduanya, dan berkata.
“Ono opo Mas Pri?”
“Istriku mau melahirkan Jon! Tolong
panggilkan paraji di desa sebelah.”
“Baiklah Pri. Kau pulanglah, temani
istrimu.”
“Pak, bapak kan lagi sakit.” Asnah
berusaha mencegah suaminya namun apa daya. Suaminya yang terlalu baik itu tetap
ingin membantu Pri tanpa menyadari dirinya juga memerlukan bantuan. Pri yang
sedang kualahan hanya bisa mengiyakan suruhan Joni.
Asnah yang kakinya tidak kuat
berjalan untuk jarak jauh itu tidak bisa membantu Pri menemani istrinya yang
akan melahirkan. Asnah ditinggal sendirian di tiga perempat malam itu. Tidak
lama kemudian terdengar suara dentuman dari kejauhan. Suara dentuman itu cukup
keras melawan heningnya langit yang menantikan fajar. Entah suara dentuman apa
itu, Asnah hanya bisa berdoa untuk keselamatan sang suami dan tetangganya.
***
Pagi-pagi benar
warga dikejutkan dengan ditemukannya seorang lelaki tua di tengah tambang
kapur. Usianya kira-kira diatas enampuluh tahun.
“Itu Mas Pri!” Teriak salah satu
warga yang berkerubun di sekeliling tubuh tak bernyawa itu.
Mas Pri meninggal lantaran sepulang
dari rumah Joni subuh tadi ia memotong jalan melewati tambang kapur dan
menginjak ranjau yang tadi siang belum sempat meledak. Ranjau yang biasa
digunakan para penambang untuk meledakkan bongkahan batu kapur itu menewaskan
tuannya sendiri.
Selain di tambang kapur, pagi itu
keramaian warga juga ditemukan dikediaman Mas Pri. Istrinya yang akan
melahirkan subuh tadi ternyata meninggal dunia dengan kondisi yang
memprihatinkan. Pendarahan yang membuatnya lemah semakin melemah karena
suaminya yang subuh tadi pergi meminta bantuan tak kunjung datang. Untunglah
bayinya selamat, namun naas, bayi itu terlahir tanpa ayah dan ibunya.
Joni? Ya. Joni juga meninggal
karena radang THT yang dideritanya kumat. Radang itu disebabkan karena setiap
hari ia menghirup udara batu kapur dan udara tersebut mengendap ganas di dalam
hidung dan tenggorokannya selama bertahun-tahun. Batuk darah yang seringkali
dideritanya adalah penghujung hidupnya sebagai penambang kapur yang telah
hampir 35 tahun ia geluti. Joni ditemukan tergeletak di gardu desa sebelah
dalam keadaan menggenggam darah kental berwarna merah marun kecoklat-coklatan.
Darah yang selalu ia keluarkan saat batuk hebatnya menggetarkan hati seeorang
Asnah. Mungkin juga menggetarkan seluruh manusia yang memiliki hati.
***
@pitajoe_
Maret 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar