Minggu, 08 Desember 2013

DERITA SI PENAMBANG

Oleh : pitajoe

Bau bebatuan di tengah hari itu sangat keras, sekeras kerja mereka. Sinar matahari yang terik tidak membuat mereka berhenti untuk sekedar berteduh. Para penambang kapur disana memang selalu bekerja dengan semangat walau sebenarnya hati mereka lunglai, haus dan lapar. Para penambang kapur di gunung ini usianya kira-kira 45-65 tahun. Usia yang tidak lagi muda, namun kekuatannya masih sama bahkan lebih dari orang muda.
Seperti biasanya, jam empat sore Joni – salah satu penambang kapur– pulang dengan membawa hasil kerja hari ini. Hasil yang tidak sebanding dengan kulit kelangnya, keringat disetiap detiknya, hidungnya yang berdebu, telapak kaki tanpa alasnya, telapak tangannya yang kapalan, perut dan kerongkongannya yang kering, dan juga nyawa sebagai taruhannya. Apalagi usianya kini sudah 63 tahun. Usia yang cukup tua jika dibandingkan dengan teman-teman penambang yang lain.
“Mak, ini hasilku hari ini. Aku capek, mau istirahat.”
“Ya Pak, istirahatlah. Teh manisnya sudah kutaruh disamping ranjang.”
Joni pergi ke kamar tidurnya yang mungkin hanya berukuran tiga kali WC umum. Seorang wanita bertubuh pendek dengan kain samping itu adalah istri Joni. Asnah namanya. Kira-kira umurnya 50 tahun. Asnah kemudian membuka gulungan uang pemberian Joni tadi, sementara suara batuk Joni dikamar terdengar sangat kencang. Jelas saja pasti terdengar, rumahnya hanya sepetak dan terbuat dari bilik bambu.
“Harusnya pemerentah merhatiin pegawean orang tambang ya. Dikasih sepatu, kek. Helm, pos buat neduh..”
“Nje’ Mak, uwislah ora opo. Masih bisa megawe ge sukur.” Joni menimpali sambil diiringi suara batuknya yang keras.
“Sukur emang, tapi perih liat bapak jadi sakit begitu, besok cari kerjaan lain saja”
“Ora!”
“Pak, Mak ora kepengen liat bapak sakit-sakitan.”
“Ora, ora, o…” suara Joni terpotong batuk yang sangat hebat. Kemudian..
“Mak, darah!”
Asnah sontak berlari menghampiri Joni di kamar. “Astagfirullahaladzim Pak!” darah kental berwarna merah marun kecoklat-coklatan tersangga di telapak tangan Joni. Terlihat sisa-sisa darah di sekeliling mulutnya sebagai tanda bahwa dari sanalah darah itu keluar. Asnah menangis kemudian memeluk Joni dengan erat sesaat sebelum akhirnya ia membersihkah seluruh darah yang ada disana. Kemudian Asnah memberi Joni segelas teh manis yang telah dibuatkan sebelumnya.
Joni duduk bersandar dengan kaki selonjoran diatas ranjangnya. Sementara Asnah sibuk menghangatkan wajah, pundak, dan tengkuk Joni dengan kain bekas baju yang dicelupkan kedalam baskom berisi air hangat. Tidak lama kemudian dengan penuh rasa kasih sayang, Asnah memijat kaki Joni perlahan. Tidak ada obat yang dapat Asnah berikan kepada suami tercintanya. Tidak ada tetangga yang dapat diandalkan karena semuanya bernasib sama.
Sinar terang bulan di luar masuk ke dalam kamar lewat beberapa celah biliknya. Malam itu hening sehening-heningnya. Padahal biasanya anak-anak kecil ramai bermain dibawah bulan purnama.
Joni telah tertidur pulas disamping Asnah. Tetapi mata Asnah masih terbuka lebar. Melihat langit-langit yang tertutup latu. Beberapa waktu ia sempatkan diri untuk melihat ke arah suaminya, memeriksa apakah suaminya dalam keadaan baik-baik saja. Entah dalam penglihatan yang ke berapa, Asnah menemukan suaminya mengeluarkan darah dari lubang hidung. Tanpa membangunkannya, Asnah mengambil kain bekas kompres tadi dan menghapus noda darah di bawah lubang hidung suaminya dengan perlahan.
Hampir subuh, Asnah yang masih terjaga mendengar suara langkah kaki ke arah rumahnya. Kemudian terdengar langkah kaki itu terhenti namun langsung disambung suara yang memanggil-manggil namanya juga nama suaminya. Sepertinya suara tetangga. Itu adalah suara Mas Pri. Asnah beranjak pergi dari samping suaminya menuju pintu.
“Bang Jon! Asnah! Bang!”
“Nje Mas Pri. Ono opo?”
“Tolong Asnah, istriku mau melahirkan!”
“Anu Mas Pri, Joni sedang sakit ora bisa …” pembicaraan Asnah terpotong oleh Joni yang keluar kamar, menghampiri keduanya, dan berkata.
“Ono opo Mas Pri?”
“Istriku mau melahirkan Jon! Tolong panggilkan paraji di desa sebelah.”
“Baiklah Pri. Kau pulanglah, temani istrimu.”
“Pak, bapak kan lagi sakit.” Asnah berusaha mencegah suaminya namun apa daya. Suaminya yang terlalu baik itu tetap ingin membantu Pri tanpa menyadari dirinya juga memerlukan bantuan. Pri yang sedang kualahan hanya bisa mengiyakan suruhan Joni.
Asnah yang kakinya tidak kuat berjalan untuk jarak jauh itu tidak bisa membantu Pri menemani istrinya yang akan melahirkan. Asnah ditinggal sendirian di tiga perempat malam itu. Tidak lama kemudian terdengar suara dentuman dari kejauhan. Suara dentuman itu cukup keras melawan heningnya langit yang menantikan fajar. Entah suara dentuman apa itu, Asnah hanya bisa berdoa untuk keselamatan sang suami dan tetangganya.

***
Pagi-pagi benar warga dikejutkan dengan ditemukannya seorang lelaki tua di tengah tambang kapur. Usianya kira-kira diatas enampuluh tahun.
“Itu Mas Pri!” Teriak salah satu warga yang berkerubun di sekeliling tubuh tak bernyawa itu.
Mas Pri meninggal lantaran sepulang dari rumah Joni subuh tadi ia memotong jalan melewati tambang kapur dan menginjak ranjau yang tadi siang belum sempat meledak. Ranjau yang biasa digunakan para penambang untuk meledakkan bongkahan batu kapur itu menewaskan tuannya sendiri.
Selain di tambang kapur, pagi itu keramaian warga juga ditemukan dikediaman Mas Pri. Istrinya yang akan melahirkan subuh tadi ternyata meninggal dunia dengan kondisi yang memprihatinkan. Pendarahan yang membuatnya lemah semakin melemah karena suaminya yang subuh tadi pergi meminta bantuan tak kunjung datang. Untunglah bayinya selamat, namun naas, bayi itu terlahir tanpa ayah dan ibunya.
Joni? Ya. Joni juga meninggal karena radang THT yang dideritanya kumat. Radang itu disebabkan karena setiap hari ia menghirup udara batu kapur dan udara tersebut mengendap ganas di dalam hidung dan tenggorokannya selama bertahun-tahun. Batuk darah yang seringkali dideritanya adalah penghujung hidupnya sebagai penambang kapur yang telah hampir 35 tahun ia geluti. Joni ditemukan tergeletak di gardu desa sebelah dalam keadaan menggenggam darah kental berwarna merah marun kecoklat-coklatan. Darah yang selalu ia keluarkan saat batuk hebatnya menggetarkan hati seeorang Asnah. Mungkin juga menggetarkan seluruh manusia yang memiliki hati.

***

@pitajoe_

Maret 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar