Oleh
: pitajoe
Saat
ingin menulis artikel ini, konsep yang sudah terpapar di otak saya tiba-tiba
saja buyar saat berhadapan dengan mesin tik moderen. Mungkin karena saya grogi.
Atau mungkin karena terlalu banyaknya cerita tentang sosok ibu yang ada di otak
saya sehingga saya tidak dapat mengingatnya satupun. Hal itu mengharuskan saya
berpikir kembali apa yang menarik yang dapat dibahas dari sosok ibu? Ternyata
jawabannya, yang menarik dari sosok ibu adalah: ibu itu sosok yang menarik. Nah loh? Hal yang menarik dari sosok ibu
ternyata kemenarikan ibu kita itu sendiri. Hanya kalian yang dapat menjawabnya
karena setiap orang pasti memiliki pandangan masing-masing mengenai ibunya
sendiri. Ibuku cantik, Ibuku baik, ibuku cerewet tetapi perhatian, ibuku pelit
tetapi penuh tanggung jawab, ibuku galak tetapi selalu mengingatkan aku untuk
makan malam, dan ibu-ibu yang lain yang sifatnya berbeda namun tetap terkenal
dengan sosok yang penuh kasih sayang dan penuh ketegaran dalam hidupnya. Ya,
seberapa buruk rupa atau sifat seorang ibu, itulah ibu kita. Seberapa galak dan
cerewetnya seorang ibu, itulah ibu kita.
Bicara
soal sosok “ibu”, tentu kita akan segera mengingat wajah ibu kita tercinta yang
telah bersusah payah mengandung, melahirkan, dan mendidik kita hingga besar.
Ibu adalah pahlawan. Sangat miris jika melihat pergaulan jaman sekarang ini,
dimana banyak ditemukan remaja-remaja yang mulai berani membangkang bahkan
berbohong kepada orangtua, Ibu khususnya. Lihat saja, bisa setiap menit
remaja-remaja itu melontarkan kalimat mesra dan perhatian kepada pasangan atau
pacarnya, seperti pertanyaan “sudah makan belum?” atau “jangan lupa makan ya biar nggak sakit”. Mengapa tidak
kalimat-kalimat tersebut mereka lontarkan kepada ibu mereka saat mereka
dirumah. Hal tersebut seharusnya dipikirkan oleh kita semua. Saat kita dewasa,
pola pikir kita seharusnya mampu menyaring mana perbuatan baik dan mana
perbuatan yang buruk.
Seseorang
perempuan yang telah menjadi sosok dengan status “ibu” tidaklah semudah yang
kita bayangkan. Perjuangannya terus mengalir seperti air sungai yang tak pernah
kering. Mulai dari saat mengandung yang dengan hati-hati menjaga kandungannya
selama sembilan bulan, lalu saat menunggu waktu untuk melahirkan yang
membutuhkan banyak persiapan tenaga dan persiapan batin karena saat melahirkan
nanti seperti perang yang jika tidak seiring dengan nafas, taruhannya adalah
nyawa. Kemudian perjuangannya dalam mengurus kita sewaktu bayi. Sungguh pasti
sangat merepotkan. Harus menggantikan popok setiap kali sudah berat dengan air
pipis, harus begadang jika kita sakit dan terus merengek, harus bangun tengah
malam saat kita menangis karena haus dan ingin air susunya, harus mengerjakan
pekerjaan rumah juga, harus menyiapkan makan suami juga, dan harus menghitung
biaya rumah tangga setiap bulannya. Ya Allah, beban seperti itu memang sudah
merupakan kodrat seorang ibu. Beban yang merupakan kewajiban seorang wanita.
Karena setiap wanita di dunia ini adalah bibit yang akan menjadi sosok ibu nantinya.
Jika
kita melihat sisi sosok ibu seperti tadi, masihkah kaum lelaki berani menjuluki
wanita sebagai “racun dunia”? Tidakkah ibu mereka juga wanita? Mungkin memang,
kata “racun” yang mereka gunakan untuk menjuluki wanita memiliki makna yang
berbalik dengan makna racun yang sebenarnya. Misalnya saja, mereka mengatakan
“wanita racun dunia” karena mereka luluh atau tergila-gila oleh kehadiran sosok
wanita. Namun itu semua akan lebih indah didengar jika mereka mengatakan
“wanita madu dunia”. Untuk kaum lelaki, tidakkah kalian anggap wanita itu
sebagai pemanis hidupmu? Dan bagi kalian semua, tidakkah kalian anggap
perjuangan-perjuangan ibu kalian yang tak ternilai harganya itu bagai sesuatu
yang indah dan manis?
Ada
satu hal lagi yang mengganjal dalam pemikiran saya, mengapa orang-orang berebut
perhatian dengan memberi sedekah kepada anak yatim piatu, buka puasa bersama
bahkan menyekolahkannya. Tidakkah mereka berfikir bahwa diri mereka sendiri
haruslah terlebih dulu membenahi diri dan hidup mereka dengan penuh kasih
sayang dan ketegaran agar tidak menyebabkan anak mereka menjadi anak yatim
piatu. Karena penyebab anak menjadi anak yatim piatu yang terbesar bukanlah
karena orangtua mereka yang meninggal dunia, melainkan perceraian. Sedangkan
faktor-faktor penyebab perceraian itu sendiri sebagian besar dari ketidak
harmonisan dan tidak adanya korelasi yang baik antara seorang suami dan istri
sehingga tidak ada ketegaran menjalani lakonnya sebagai orangtua. Sebagian
besar dari hal tersebut, yang berperan lebih aktif adalah sosok ibu.
Ibu
adalah pahlawan abadi yang takkan pernah ada satu pun yang bisa
menggantikannya. Bahkan figur ayah pun tidak akan bisa setangguh sosok ibu yang
hidupnya penuh kasih dan ketegaran. Banyak kasus yang dapat dilihat, salah
satunya seorang istri yang ditinggal pergi oleh suaminya dan ia harus
menghidupkan dirinya dan anak-anaknya dengan mencari nafkah seperti menjadi
pedagang, pekerja rumah tangga, ada yang menjadi pekerja sesuai keahliannya
seperti tukang urut, tukang masak bahkan menjadi tukang ojek. Yang lebih
mirisnya lagi ada yang rela menjajakan tubuhnya sebagai pekerja seks.
Subhanallah. Andai saja perekonomian di negeri ini bisa rata karena diraih
setidaknya dengan seonggok perhatian pemerintah terhadap kaum yang membutuhkan
pekerjaan.
“Wanita
madu dunia” memang julukan yang sangat cocok untuk perjuangan seorang ibu. Apa
jadinya dunia ini tanpa ketangguhannya? Apa jadinya hidup ini tanpa
bimbingannya yang lembut dibalik galak, pelit dan cerewetnya yang begitu manis.
Ingatlah selalu kebaikannya bahkan hingga sosoknya tak lagi dapat kita lihat.
Sentuhlah setiap kalimat nasihatnya dengan kelembutan karena berbakti kepada
ibu adalah kewajiban setiap figur anak. Sesungguhnya istilah bahwa surga ada di
telapak kaki ibu merupakan makna yang cukup mendalam yang berarti sebelum
berkata ingin berbakti pada Negara, seorang anak harus berbakti terlebih dulu
kepada orangtua, ibu khususnya. Berbakti dan menyayangi ibu bukan berarti harus
mencium dan memeluknya setiap akan pergi sekolah atau hanya membantunya
mengerjakan pekerjaan rumah ketika libur, tetapi berbakti dan sayangilah ibu
dengan benahi perilaku kita agar selalu melakukan tindakan yang terpuji.
Sehingga kita menjadi pribadi yang tangguh dan tegar. Sayangi dan genggamlah
jemarinya yang manis agar kita selalu ingat dan berkata bahwa wanita adalah
madu dunia.
@pitajoe_
awal 2012