Rabu, 11 Desember 2013

WANITA MADU DUNIA

Oleh : pitajoe

Saat ingin menulis artikel ini, konsep yang sudah terpapar di otak saya tiba-tiba saja buyar saat berhadapan dengan mesin tik moderen. Mungkin karena saya grogi. Atau mungkin karena terlalu banyaknya cerita tentang sosok ibu yang ada di otak saya sehingga saya tidak dapat mengingatnya satupun. Hal itu mengharuskan saya berpikir kembali apa yang menarik yang dapat dibahas dari sosok ibu? Ternyata jawabannya, yang menarik dari sosok ibu adalah: ibu itu sosok yang menarik. Nah loh? Hal yang menarik dari sosok ibu ternyata kemenarikan ibu kita itu sendiri. Hanya kalian yang dapat menjawabnya karena setiap orang pasti memiliki pandangan masing-masing mengenai ibunya sendiri. Ibuku cantik, Ibuku baik, ibuku cerewet tetapi perhatian, ibuku pelit tetapi penuh tanggung jawab, ibuku galak tetapi selalu mengingatkan aku untuk makan malam, dan ibu-ibu yang lain yang sifatnya berbeda namun tetap terkenal dengan sosok yang penuh kasih sayang dan penuh ketegaran dalam hidupnya. Ya, seberapa buruk rupa atau sifat seorang ibu, itulah ibu kita. Seberapa galak dan cerewetnya seorang ibu, itulah ibu kita.
Bicara soal sosok “ibu”, tentu kita akan segera mengingat wajah ibu kita tercinta yang telah bersusah payah mengandung, melahirkan, dan mendidik kita hingga besar. Ibu adalah pahlawan. Sangat miris jika melihat pergaulan jaman sekarang ini, dimana banyak ditemukan remaja-remaja yang mulai berani membangkang bahkan berbohong kepada orangtua, Ibu khususnya. Lihat saja, bisa setiap menit remaja-remaja itu melontarkan kalimat mesra dan perhatian kepada pasangan atau pacarnya, seperti pertanyaan “sudah makan belum?” atau “jangan lupa makan ya biar nggak sakit”. Mengapa tidak kalimat-kalimat tersebut mereka lontarkan kepada ibu mereka saat mereka dirumah. Hal tersebut seharusnya dipikirkan oleh kita semua. Saat kita dewasa, pola pikir kita seharusnya mampu menyaring mana perbuatan baik dan mana perbuatan yang buruk.
Seseorang perempuan yang telah menjadi sosok dengan status “ibu” tidaklah semudah yang kita bayangkan. Perjuangannya terus mengalir seperti air sungai yang tak pernah kering. Mulai dari saat mengandung yang dengan hati-hati menjaga kandungannya selama sembilan bulan, lalu saat menunggu waktu untuk melahirkan yang membutuhkan banyak persiapan tenaga dan persiapan batin karena saat melahirkan nanti seperti perang yang jika tidak seiring dengan nafas, taruhannya adalah nyawa. Kemudian perjuangannya dalam mengurus kita sewaktu bayi. Sungguh pasti sangat merepotkan. Harus menggantikan popok setiap kali sudah berat dengan air pipis, harus begadang jika kita sakit dan terus merengek, harus bangun tengah malam saat kita menangis karena haus dan ingin air susunya, harus mengerjakan pekerjaan rumah juga, harus menyiapkan makan suami juga, dan harus menghitung biaya rumah tangga setiap bulannya. Ya Allah, beban seperti itu memang sudah merupakan kodrat seorang ibu. Beban yang merupakan kewajiban seorang wanita. Karena setiap wanita di dunia ini adalah bibit yang akan menjadi sosok ibu nantinya.
Jika kita melihat sisi sosok ibu seperti tadi, masihkah kaum lelaki berani menjuluki wanita sebagai “racun dunia”? Tidakkah ibu mereka juga wanita? Mungkin memang, kata “racun” yang mereka gunakan untuk menjuluki wanita memiliki makna yang berbalik dengan makna racun yang sebenarnya. Misalnya saja, mereka mengatakan “wanita racun dunia” karena mereka luluh atau tergila-gila oleh kehadiran sosok wanita. Namun itu semua akan lebih indah didengar jika mereka mengatakan “wanita madu dunia”. Untuk kaum lelaki, tidakkah kalian anggap wanita itu sebagai pemanis hidupmu? Dan bagi kalian semua, tidakkah kalian anggap perjuangan-perjuangan ibu kalian yang tak ternilai harganya itu bagai sesuatu yang indah dan manis?
Ada satu hal lagi yang mengganjal dalam pemikiran saya, mengapa orang-orang berebut perhatian dengan memberi sedekah kepada anak yatim piatu, buka puasa bersama bahkan menyekolahkannya. Tidakkah mereka berfikir bahwa diri mereka sendiri haruslah terlebih dulu membenahi diri dan hidup mereka dengan penuh kasih sayang dan ketegaran agar tidak menyebabkan anak mereka menjadi anak yatim piatu. Karena penyebab anak menjadi anak yatim piatu yang terbesar bukanlah karena orangtua mereka yang meninggal dunia, melainkan perceraian. Sedangkan faktor-faktor penyebab perceraian itu sendiri sebagian besar dari ketidak harmonisan dan tidak adanya korelasi yang baik antara seorang suami dan istri sehingga tidak ada ketegaran menjalani lakonnya sebagai orangtua. Sebagian besar dari hal tersebut, yang berperan lebih aktif adalah sosok ibu.
Ibu adalah pahlawan abadi yang takkan pernah ada satu pun yang bisa menggantikannya. Bahkan figur ayah pun tidak akan bisa setangguh sosok ibu yang hidupnya penuh kasih dan ketegaran. Banyak kasus yang dapat dilihat, salah satunya seorang istri yang ditinggal pergi oleh suaminya dan ia harus menghidupkan dirinya dan anak-anaknya dengan mencari nafkah seperti menjadi pedagang, pekerja rumah tangga, ada yang menjadi pekerja sesuai keahliannya seperti tukang urut, tukang masak bahkan menjadi tukang ojek. Yang lebih mirisnya lagi ada yang rela menjajakan tubuhnya sebagai pekerja seks. Subhanallah. Andai saja perekonomian di negeri ini bisa rata karena diraih setidaknya dengan seonggok perhatian pemerintah terhadap kaum yang membutuhkan pekerjaan.
“Wanita madu dunia” memang julukan yang sangat cocok untuk perjuangan seorang ibu. Apa jadinya dunia ini tanpa ketangguhannya? Apa jadinya hidup ini tanpa bimbingannya yang lembut dibalik galak, pelit dan cerewetnya yang begitu manis. Ingatlah selalu kebaikannya bahkan hingga sosoknya tak lagi dapat kita lihat. Sentuhlah setiap kalimat nasihatnya dengan kelembutan karena berbakti kepada ibu adalah kewajiban setiap figur anak. Sesungguhnya istilah bahwa surga ada di telapak kaki ibu merupakan makna yang cukup mendalam yang berarti sebelum berkata ingin berbakti pada Negara, seorang anak harus berbakti terlebih dulu kepada orangtua, ibu khususnya. Berbakti dan menyayangi ibu bukan berarti harus mencium dan memeluknya setiap akan pergi sekolah atau hanya membantunya mengerjakan pekerjaan rumah ketika libur, tetapi berbakti dan sayangilah ibu dengan benahi perilaku kita agar selalu melakukan tindakan yang terpuji. Sehingga kita menjadi pribadi yang tangguh dan tegar. Sayangi dan genggamlah jemarinya yang manis agar kita selalu ingat dan berkata bahwa wanita adalah madu dunia.

@pitajoe_
awal 2012









SEJARAH (ODONG-ODONG) MANG SAHID

oleh : pitajoe

Sudah jam sepuluh belum datang juga.. mana nih ya mamangnya..” Ujar Ibu Marini kepada anaknya yang sedang menangis. “Sabar ya sayangku.. anak mama pinter, jangan nangis terus sayang.. cup..cup..sebentar lagi juga datang odong-odongnya.Dengan lembut Ibu Marini kembali  berusaha menenangkan buah hatinya yang terus menangis di pangkuannya. Maklum, anak kecil seusia Gio memang belum mengerti rasa sabar. Usianya yang baru dua tahun setengah itu hanya bisa merengek, meminta odong-odong yang menjadi langganannya setiap jam sepuluh pagi itu cepat datang. Gio terus menangis dan menunjuk-nunjuk pintu pagar rumah. “Mamang odong-odong itu mungkin masih di komplek sebelah.” Ujar Ibu Marini sambil menggendong Gio mendekati pagar rumahnya yang besar bak istana.
Sebut saja Mang Sahid. Lelaki berusia sekitar 62 tahun yang selalu pergi pada pagi hari dengan odong-odong yang ia buat sendiri dari sisa-sisa bahan yang ia peroleh dari tong-tong sampah disekitar komplek Ibu Marini. Sebelum menjadi mamang odong-odong, Mang Sahid adalah pemulung di komplek Ibu Marini. Karena itulah Ibu Marini sudah mengenal Mang Sahid dari sejak ia tinggal di komplek tersebut. Mang Sahid terkenal sebagai orang yang baik. Tidak seorangpun di komplek itu yang resah akan kedatangan Mang Sahid untuk memulung di tong-tong sampah mereka. Malah, ada beberapa di antara mereka yang langsung memanggil Mang Sahid ketika lewat rumahnya untuk memberikan beberapa stel baju bekas yang masih layak pakai dan barang-barang bekas untuk Mang Sahid.
Nah.. itu dia..” Dengan semangat Ibu Marini memberitau Gio yang sudah tidak sabar ingin menunggang odong-odong Mang Sahid. Seperti biasa, Ibu Marini memberi bayaran lebih dari tarif wajarnya Mang Sahid.
“Ambil saja kembaliannya, Mang. Mungkin bisa disimpan.” Ujar Ibu Marini seraya memberikan selembar uang kertas berwarna hijau yang bertuliskan nominal angka Rp 20.000.

Tapi Bu, ini besar sekali..” dengan sedikit rasa segan Mang Sahid menerima uang tersebut setelah Ibu Marini sedikit memaksa. Kemudian tidak lupa Mang Sahid dan mengucapkan terima kasih kepada Ibu Marini.
Sambil mengayuh, wajah Mang Sahid ketika itu sangat berseri-seri. Ia teringat akan anaknya dirumah yang sedang menunggu hasil jerih payahnya untuk berobat. Anak Mang Sahid hanya satu. Istrinya sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Semasa istrinya masih ada, Mang Sahid masih bekerja sebagai pegawai swasta disuatu perusahaan. Pada saat itu kehidupan Mang Sahid masih dapat dikatakan layak, bahkan segala kebutuhan anak dan istrinya dapat terpenuhi.
Saat itu Mang Sahid berada di usia 43 tahun, anaknya yang masih duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar itu terlihat bahagia setiap kali akhir bulan karena ayahnya yang baik hati itu selalu memberinya hadiah setelah gajian. Hadiah itu dapat berupa mainan, alat sekolah, atau dengan jalan-jalan bersama ke suatu tempat rekreasi. Namun, diluar pengetahuan anak dan istrinya, Mang Sahid menilap bonus jerih payahnya untuk digunakan diluar bersama teman-teman sepemahamannya, dengan berjudi, mabuk-mabukkan, dan ‘main’ perempuan. Itu semua dilakukannya dengan bersih, tanpa sepengetahuan istri dan anaknya. Mungkin juga kebaikannya disetiap akhir bulan itu merupakan kedok belaka. Istrinya pun tidak menyadari bahwa cintanya sudah dihianati oleh Sahidullah yang kini akrab dipanggil Mang Sahid.
Pernah suatu ketika, istrinya sedang pergi ke Tanah Abang bersama rombongan ibu-ibu arisan komplek. Katanya ingin belanja bersama, namanya juga ibu-ibu komplek, kebanyakan diantaranya adalah orang yang ‘latah’ kalau ada produk keluaran baru. Entah itu pakaian, kosmetik, makanan, alat dapur, dan kawan-kawan gaya hidup lainnnya yang sama-sama menguras uang.
Istrinya pergi pagi-pagi benar, dan anaknya berangkat sekolah seperti biasanya, pergi pukul 07.00 dan pulang pukul 16.30 dilanjutkan les matematika sampai jam 19.30. Sahid yang sedang kelaparan dikantor pada jam istirahatnya itu akhirnya pergi ke kantin untuk mengisi perut. Seperti jam makan siang biasanya, Sahid makan siang ditemani wanita warung sambil bercumbu mesra.
Hal yang demikian terus terjadi sampai pada akhirnya istri Mang Sahid mengetahui segalanya dan jatuh sakit. Karena tidak kuat menerima kenyataan, istri Mang Sahid meninggal dunia di usianya yang belum terlalu senja. Rasa menyesal yang sangat hebat dirasakan oleh Mang Sahid sepulang istrinya kepada Yang Kuasa. Terlebih lagi Tuhan menghentikan segala nikmat materi yang dimiliki Mang Sahid. Hal tersebut membuatnya bertobat setobat-tobatnya. Tinggallah harta yang tersisa hanya anak satu-satunya. Kini mang Sahid tinggal di sebuah rumah yang terbuat dari bilik mambu dengan serba kekurangan. Tidak hanya itu, Tuhan juga memberi sebuah penyakit kepada anak kesayangannya, penyakit yang bisa dikatakan berat karena memerlukan biaya yang tidak sedikit untuk mengobatinya. Sejak itu Mang Sahid memulung sampah dari komplek ke komplek yang tidak jauh dari pemukimannya. Sampai akhirnya terkumpul sejumlah uang dan beberapa barang bekas pemberian orang-orang komplek yang kemudian dirakitnya menjadi sebuah alat pencari rezeki yang bernama odong-odong. Sebuah kemedi bergoyang yang di desain khusus untuk anak-anak.
Sampai saat ini, sudah lima tahun Mang Sahid bekerja mengayuh odong-odong setiap harinya. Rasa bersalah pada keluarga yang setiap malam masih meraung-raung dihatinya membuat ia semakin kuat, tabah menghadapi kenyataan, dan bersikap baik hati terhadap sesama. Sikap baiknyalah yang kini membuat ibu-ibu dan orang-orang komplek berbagi kasih dan berbelas kasih pada Mang Sahid. Mungkin yang mereka nilai dari seorang Mang Sahid hanyalah apa yang mereka lihat saat ini. Yakni penderitaan dan kekurangan yang dimiliki Mang Sahid, tanpa mereka tau kondisi kehidupannya yang jauh sebelum seperti ini.


@pitajoe_

Maret 2013

TUKANG CENDOL TINGKAT SARJANA

Oleh : pitajoe

Saya tau. Setiap tengah hari pasti orang-orang mencari yang segar-segar. Sekitar jam sebelas sampai jam dua lah. Minuman segar yang dicari di siang bolong itu biasanya yang dingin, manis dan yang pasti murah. Bukan, bukan es buah. Susah kalau untuk dijual keliling. Orang-orang yang berjualan es buah biasanya gerobaknya mangkal. Oh..bukan, bukan asinan. Asinan bikin kenyang dan tidak dingin. Ini mah yang ringan saja, cuma sebagai pelepas dahaga tetapi bisa mengganjal lapar. Ya betul, semacam es dawet, tetapi ini yang sederhananya. Nah! Cendol. Karena itu saya berjualan cendol. Naik apa? Tidak naik apa-apa, saya hanya berjalan kaki. Dengan gerobak biru itu tuh. Ya. Maklum saja, saya tidak punya banyak uang untuk membuat gerobak sepeda. Mungkin nanti kalau uang saya sudah terkumpul banyak. Ya, cendolnya saya buat sendiri. Karena kan kalau yang dijual dipasaran itu sudah banyak ditambah-tambah bahan pengawet. Oh kalau gula saya pakai gula aren. Iya memang, kan saya tambahkan kinca nangka juga, jadinya harum.
Oh tidak, saya niat berteduh saja Pak. Tidak, terimakasih Pak. Saya masih kenyang. Maaf ngomong-ngomong Pak, ini jam berapa ya? Oh, jam empat ya. Walaaah, sudah jam empat sore tapi cuaca masih panas saja ya. Iya, sekarang ini dunia sepertinya sudah mau kiamat Pak. Ya jangan dulu lah, masa Bapak pasrah betul. Saya belum hatam bertobat Pak, hehe. Ya sebenarnya dulu saya ini bukan orang yang dekat dengan Tuhan Pak.
Saya ini pernah kuliah. Saya sarjana hukum. Ya betul memang, disini juga ada universitas. Tetapi saya tidak kuliah disini, dulu saya kuliah di Jakarta. Ya memang, biaya hidupnya besar. Alhamdulillah sih Pak, orangtua saya dulu memang orang yang berada. Tetapi ya begitulah, sayanya yang tidak bermoral. Ya begitulah, masa Bapak tidak mengerti. Namanya anak muda kalau tidak kuat iman bisa gagal jadi manusia, hehe.
Awalnya sih karena dulu itu saya punya banyak uang Pak. Teman-teman saya juga punya uang banyak. Kalau sedang jenuh dengan perkuliahan, kita selalu pergi ke klub malam. Minum-minum dan tidak jarang ‘main’ perempuan. Saat itu umur saya…sekitar dua puluh dua tahun, Pak. Ya, betul sekali. Namanya jauh dari orangtua, tidak ada yang mengontrol kelakuan saya. Makanya saya seperti itu. Sepertinya waktu itu saya tidak pernah merasa kekurangan suatu apapun. Hidup saya bebas, dan yang lebih buruknya, saya tidak segan-segan untuk berlaku kasar terhadap orang yang tidak saya suka. Beberapa kali satpam di kampus pernah saya pukuli, teman saya sendiri juga pernah saya hantam. Itu semua saya lakukan tanpa rasa takut terhadap siapa-siapa, tidak terkecuali kepada Tuhan. Saya merasa berkuasa.
Tidak Pak, tidak apa-apa. Saya hanya berbagi pengalaman saja kepada Bapak. Bapak sendiri berjualan disini sudah lama? Oh.. memangnya Bapak dan keluarga tinggal dimana? Oh begitu.. memangnya tidak sempit Pak disini? Tidak apa-apalah ya Pak, walaupun sempit-sempitan yang penting bisa kumpul keluarga. Oh kalau keluarga saya sudah tidak ada Pak, saya hanya hidup bertiga dengan  istri dan anak saya. Kami tinggal di belakang stasiun. Iya anak saya sekolah. Sekarang sudah kelas lima SD. Di SDN Mekar Jaya 2 Pak. Oh bapak lulusan situ? Walaah hehehe.
Tidak Pak, saya tidak cari pekerjaan lagi. sepertinya takdir saya memang menjadi pedagang es cendol. Mungkin karma kali Pak, karena dulu saya juga pernah menghancurkan gerobak cendol disamping tempat kuliah saya. Waktu itu kejadiannya saat saya pulang kuliah, saya mencari minuman segar. Saya lihat ada tukang cendol yang sedang dikerubungi banyak pembeli. Saya yang tidak suka mengantri akhirnya menerobos pembeli-pembeli itu dan saya dipojokkan oleh semuanya, termasuk mamang cendol yang waktu itu juga berkata “sabar dong Mas, yang lain juga antri, jangan main terobos begitu nanti gerobak saya hancur”. Saya yang pada waktu itu tidak terima akhirnya menggulingkan gerobak cendol yang berakhir dengan baku hantam dengan mamang cendol yang juga tidak terima atas perilaku saya. Sebenarnya memang salah saya, tetapi sifat saya yang pada waktu itu sangat brutal membuat saya kehilangan akal sehingga lagi-lagi saya bertindak kasar kepada orang yang tidak bersalah. Sampai saat ini saya sangat menyesali perbuatan itu Pak. Terkadang kalau ingat wajah tukang cendol itu, saya ingin sekali meminta ampun padanya.
Saya lulus tahun 1999 dan menikah tahun 2002 Pak. Sejak saya lulus, tidak ada satupun lamaran kerja saya yang tembus. Padahal waktu kuliah saya ingin sekali menjadi pengacara. Tetapi cita-cita saya tertutup dosa yang teramat besar. Dosa kepada kedua orangtua saya, kapada teman-teman saya, kepada satpam dikampus saya, kepada Tuhan, dan terlebih saya sangat-sangat merasa berdosa kepada mamang cendol disamping kampus saya. Menjadi pengangguran dengan waktu yang lama membuat saya sadar dengan kesalahan-kesalahan saya. Sampai pada akhirnya saya bekerja di Mutiara Bengkel perempatan Masjid itu Pak, begitu bekerja saya langsung menikah. Tetapi memang saya bukan orang teknik mesin, saya dipecat karena kerja yang tidak baik. Setelah itu istri saya yang sangat sabar itu mengajari saya membuat cendol dengan resep alaminya. Dan sampailah saya menjadi pedagang cendol sampai saat ini, hehe. Iya Pak, saya juga berharap seperti itu.
Baiklah Pak, saya pamit dulu. Oh tidak ngider lagi Pak, cendol saya kan sudah habis, jadi saya mau pulang, mau bikin cendol lagi untuk besok, hehe. Maaf nih Pak, saya sudah mengganggu. Terimakasih banyak loh Pak. Saya sudah diberi waktu untuk bercerita. Ya, itung-itung menemani sore Bapak diwarung daripada bengong menunggu pembeli, hehe. Iya Pak. Ya betul Pak, saya mau tobat. Saya pulang dulu Pak, mari Pak.

@pitajoe_
 Maret 2013


Minggu, 08 Desember 2013

DERITA SI PENAMBANG

Oleh : pitajoe

Bau bebatuan di tengah hari itu sangat keras, sekeras kerja mereka. Sinar matahari yang terik tidak membuat mereka berhenti untuk sekedar berteduh. Para penambang kapur disana memang selalu bekerja dengan semangat walau sebenarnya hati mereka lunglai, haus dan lapar. Para penambang kapur di gunung ini usianya kira-kira 45-65 tahun. Usia yang tidak lagi muda, namun kekuatannya masih sama bahkan lebih dari orang muda.
Seperti biasanya, jam empat sore Joni – salah satu penambang kapur– pulang dengan membawa hasil kerja hari ini. Hasil yang tidak sebanding dengan kulit kelangnya, keringat disetiap detiknya, hidungnya yang berdebu, telapak kaki tanpa alasnya, telapak tangannya yang kapalan, perut dan kerongkongannya yang kering, dan juga nyawa sebagai taruhannya. Apalagi usianya kini sudah 63 tahun. Usia yang cukup tua jika dibandingkan dengan teman-teman penambang yang lain.
“Mak, ini hasilku hari ini. Aku capek, mau istirahat.”
“Ya Pak, istirahatlah. Teh manisnya sudah kutaruh disamping ranjang.”
Joni pergi ke kamar tidurnya yang mungkin hanya berukuran tiga kali WC umum. Seorang wanita bertubuh pendek dengan kain samping itu adalah istri Joni. Asnah namanya. Kira-kira umurnya 50 tahun. Asnah kemudian membuka gulungan uang pemberian Joni tadi, sementara suara batuk Joni dikamar terdengar sangat kencang. Jelas saja pasti terdengar, rumahnya hanya sepetak dan terbuat dari bilik bambu.
“Harusnya pemerentah merhatiin pegawean orang tambang ya. Dikasih sepatu, kek. Helm, pos buat neduh..”
“Nje’ Mak, uwislah ora opo. Masih bisa megawe ge sukur.” Joni menimpali sambil diiringi suara batuknya yang keras.
“Sukur emang, tapi perih liat bapak jadi sakit begitu, besok cari kerjaan lain saja”
“Ora!”
“Pak, Mak ora kepengen liat bapak sakit-sakitan.”
“Ora, ora, o…” suara Joni terpotong batuk yang sangat hebat. Kemudian..
“Mak, darah!”
Asnah sontak berlari menghampiri Joni di kamar. “Astagfirullahaladzim Pak!” darah kental berwarna merah marun kecoklat-coklatan tersangga di telapak tangan Joni. Terlihat sisa-sisa darah di sekeliling mulutnya sebagai tanda bahwa dari sanalah darah itu keluar. Asnah menangis kemudian memeluk Joni dengan erat sesaat sebelum akhirnya ia membersihkah seluruh darah yang ada disana. Kemudian Asnah memberi Joni segelas teh manis yang telah dibuatkan sebelumnya.
Joni duduk bersandar dengan kaki selonjoran diatas ranjangnya. Sementara Asnah sibuk menghangatkan wajah, pundak, dan tengkuk Joni dengan kain bekas baju yang dicelupkan kedalam baskom berisi air hangat. Tidak lama kemudian dengan penuh rasa kasih sayang, Asnah memijat kaki Joni perlahan. Tidak ada obat yang dapat Asnah berikan kepada suami tercintanya. Tidak ada tetangga yang dapat diandalkan karena semuanya bernasib sama.
Sinar terang bulan di luar masuk ke dalam kamar lewat beberapa celah biliknya. Malam itu hening sehening-heningnya. Padahal biasanya anak-anak kecil ramai bermain dibawah bulan purnama.
Joni telah tertidur pulas disamping Asnah. Tetapi mata Asnah masih terbuka lebar. Melihat langit-langit yang tertutup latu. Beberapa waktu ia sempatkan diri untuk melihat ke arah suaminya, memeriksa apakah suaminya dalam keadaan baik-baik saja. Entah dalam penglihatan yang ke berapa, Asnah menemukan suaminya mengeluarkan darah dari lubang hidung. Tanpa membangunkannya, Asnah mengambil kain bekas kompres tadi dan menghapus noda darah di bawah lubang hidung suaminya dengan perlahan.
Hampir subuh, Asnah yang masih terjaga mendengar suara langkah kaki ke arah rumahnya. Kemudian terdengar langkah kaki itu terhenti namun langsung disambung suara yang memanggil-manggil namanya juga nama suaminya. Sepertinya suara tetangga. Itu adalah suara Mas Pri. Asnah beranjak pergi dari samping suaminya menuju pintu.
“Bang Jon! Asnah! Bang!”
“Nje Mas Pri. Ono opo?”
“Tolong Asnah, istriku mau melahirkan!”
“Anu Mas Pri, Joni sedang sakit ora bisa …” pembicaraan Asnah terpotong oleh Joni yang keluar kamar, menghampiri keduanya, dan berkata.
“Ono opo Mas Pri?”
“Istriku mau melahirkan Jon! Tolong panggilkan paraji di desa sebelah.”
“Baiklah Pri. Kau pulanglah, temani istrimu.”
“Pak, bapak kan lagi sakit.” Asnah berusaha mencegah suaminya namun apa daya. Suaminya yang terlalu baik itu tetap ingin membantu Pri tanpa menyadari dirinya juga memerlukan bantuan. Pri yang sedang kualahan hanya bisa mengiyakan suruhan Joni.
Asnah yang kakinya tidak kuat berjalan untuk jarak jauh itu tidak bisa membantu Pri menemani istrinya yang akan melahirkan. Asnah ditinggal sendirian di tiga perempat malam itu. Tidak lama kemudian terdengar suara dentuman dari kejauhan. Suara dentuman itu cukup keras melawan heningnya langit yang menantikan fajar. Entah suara dentuman apa itu, Asnah hanya bisa berdoa untuk keselamatan sang suami dan tetangganya.

***
Pagi-pagi benar warga dikejutkan dengan ditemukannya seorang lelaki tua di tengah tambang kapur. Usianya kira-kira diatas enampuluh tahun.
“Itu Mas Pri!” Teriak salah satu warga yang berkerubun di sekeliling tubuh tak bernyawa itu.
Mas Pri meninggal lantaran sepulang dari rumah Joni subuh tadi ia memotong jalan melewati tambang kapur dan menginjak ranjau yang tadi siang belum sempat meledak. Ranjau yang biasa digunakan para penambang untuk meledakkan bongkahan batu kapur itu menewaskan tuannya sendiri.
Selain di tambang kapur, pagi itu keramaian warga juga ditemukan dikediaman Mas Pri. Istrinya yang akan melahirkan subuh tadi ternyata meninggal dunia dengan kondisi yang memprihatinkan. Pendarahan yang membuatnya lemah semakin melemah karena suaminya yang subuh tadi pergi meminta bantuan tak kunjung datang. Untunglah bayinya selamat, namun naas, bayi itu terlahir tanpa ayah dan ibunya.
Joni? Ya. Joni juga meninggal karena radang THT yang dideritanya kumat. Radang itu disebabkan karena setiap hari ia menghirup udara batu kapur dan udara tersebut mengendap ganas di dalam hidung dan tenggorokannya selama bertahun-tahun. Batuk darah yang seringkali dideritanya adalah penghujung hidupnya sebagai penambang kapur yang telah hampir 35 tahun ia geluti. Joni ditemukan tergeletak di gardu desa sebelah dalam keadaan menggenggam darah kental berwarna merah marun kecoklat-coklatan. Darah yang selalu ia keluarkan saat batuk hebatnya menggetarkan hati seeorang Asnah. Mungkin juga menggetarkan seluruh manusia yang memiliki hati.

***

@pitajoe_

Maret 2013

HAPPY NEW YEAR, ARES

Oleh : pitajoe

“Kembang apinya bagus banget ya Res.”
“Tapi tadi itu belum seberapa Rei. Yang mantep itu kembang api di dufan, Ancol. Tepat jam 00.00 di pergantian tahun, kembang apinya meluncur membentuk huruf D-U-F-A-N dan tulisannya hilang dalam waktu yang lama banget.”
“Yahh.. Kamu bikin aku jadi pingin lihat Res. Emangnya kamu udah pernah lihat? Hmm.. sama siapa?”
“Hehehe aku diceritain temanku sayang, jangan cemburu dulu dong.”
“Ah kamu! Aku kira kamu udah lihat.”
“Aku belum lihat Reiyas sayang, gimana kalau tahun depan kita lihat sama-sama. Kita merayakan tahun baru di dufan. Setuju?”
“Serius dong Res..”
“Iya serius. Pokoknya aku janji..”
            Seyumku tak terbendung dikala itu. Percakapan seusai malam pergantian tahun lalu di pinggir jalan tol Cibubur  yang tidak akan pernah aku lupakan. Betapa percikan kembang api malam itu menjanjikan. Sinarnya melebur bersama terangnya bintang-bintang. Menemani kebersamaan kami dibawah indahnya bulan bulat.  Itulah kali pertama kami melihat perayaan malam pergantian tahun bersama, setelah sebelumnya kami menjalin hubungan sebelas bulan.
Lima bulan yang lalu ares menjemputku ke rumah. Ia akan mengantarkanku ke sebuah toko buku. Sesampainya dirumahku, aku sedikit terkejut dengan penampilannya. Ares, lelaki yang sangat ku cintai itu sangat terlihat beda dari biasanya. Kulitnya yang putih tampak segar dengan kaos krem yang dibalut kemeja kotak-kotak berwarna biru muda dan hijau dengan sedikit polet garis hitam. Bawahannya juga rapi. Jeans biru tua gelap dengan sepatu sneakers krem. Ares yang kukenal biasanya untuk pergi ke toko buku saja ia akan berpakaian santai dengan baju kaos, celana pendek dan sandalnya. Selain cara berpakaian, sorot matanya juga tidak seperti biasa. Seperti ingin mengatakan sesuatu yang sulit di ungkapkan. Tetapi aku tidak peduli. Yang aku rasa, aku senang, ia terlihat lebih tampan dari biasanya.
Sesampainya disana, Ares tidak banyak bicara. Ia hanya melontarkan beberapa kata yang dianggapnya penting saja. Wajahnya sendu namun tatapannya kosong. Bibirnya selalu menyungging senyum setiap kali kami saling bertatapan. Di setiap kesempatan juga ia selalu menggenggam erat tanganku. firasatku terus berputar dan bertanya-tanya ada apa sebenarnya dengan Ares.
Di perjalanan pulang, Ares yang selalu membahas perkembangan musiknya di atas motor, kini seperti tidak punya hal baru yang dapat dibahas. Ares yang selalu memberi candaan segar kini seakan kehabisan akal. Biasanya memang, anak band seperti Ares adalah orang-orang yang humoris. Tetapi mengapa, ketika itu ia terlihat aneh bagiku.
Jantungku berdegup kencang di perempatan saat perjalanan kami terhenti oleh lampu merah. Selama enam puluh detik pikiran ini tidak karuan. Aku berusaha menenangkan pikiran dan hatiku. Aku pejamkan kedua mataku agar aku merasa semuanya baik-baik saja. Ku dekap erat tubuh Ares yang lunglai itu di atas motor. Tangan kirinya melepas stang motor dan mengusap jemariku. Aku sangat merasakan kasih sayang lewat tangan lembutnya .Ternyata enam puluh detik waktu yang tersedia disana untuk terakhir kalinya aku mendekap erat tubuh Ares. Karena setelah lampu hijau menyala, sebuah truk kontrainer melaju cepat dari jalur lain yang seharusnya berhenti. Kontrainer yang menerobos lampu merah itu juga menerobos motor Ares dengan hebatnya. Aku sempat tidak sadarkan diri saat itu.
Aku baru sadarkan diri setelah dua hari mengalami koma di rumah sakit. Begitu tersadar, aku mendapati berita bahwa Ares sudah tidak ada. Ia meninggal langsung di tempat kejadian. Mendengar hal itu badanku lemas seperti akan kembali koma. Pikiranku melayang entah kemana. Hatiku mengejang. Kerongkonganku kering sekering-keringnya. Aku tidak percaya, aku hanya bisa menangis, menangis dan menangis saat itu.
Tak sempat aku melihat proses pemakaman Ares di tempat peristirahatan terakhirnya karena kondisi tubuhku yang belum pulih. Kata dokter, aku mengalami benturan hebat di tengkuk belakang dan tulang betis. Hampir saja aku mengalami kelumpuhan. Namun Tuhan masih memberikanku secercah nyawa lagi. Tuhan masih sayang kepadaku. Tetapi mengapa Ares harus pergi? Mengapa Tuhan mengambil Ares disaat aku tidak ingin sedetikpun melepaskannya? Takdir Tuhan memang tidak dapat diperkirakan manusia.
Janji untuk melihat indahnya malam pergantian tahun bersama Ares di tahun ini harus terkubur bersama dukaku. Setelah maut yang merenggut nyawa kekasihku datang dengan raut sendu, yang tersisa hanyalah kepingan kenangan manis bersamanya di setiap sudut kota.
Malam ini adalah malam tahun baru. Sudah lima bulan Ares pergi namun wajah penuh kasih itu masih bisa aku rasakan. “Sayang, malam ini seharusnya kita melihat perayaan malam tahun baru di dufan…” Aku tidak bisa menahan segala rasa sedih yang mendekapku begitu erat. Lagi-lagi air mata ini membanjiri pipi. Saat itu juga aku putuskan untuk pergi kesana sendiri. Ke dufan. Aku ingin menepati janji kami. Walaupun Ares tidak ada, setidaknya aku sendiri yang akan pergi kesana. Aku rasa Ares pasti ikut senang kalau aku bisa menciptakan impian kami berdua.
Pukul 07.00 malam aku pergi sendiri menuju Jakarta Utara. Mobil jazz putihku melaju perlahan menyusuri jalanan Jakarta. Suasana tahun baru sangat kental dengan deretan penjual terompet di sepanjang jalan. Walaupun tahun baru, tetapi jalanan Jakarta lengang. Banyak orang Jakarta yang sudah pergi ke Anyer dan Puncak untuk malam tahun baruan disana. Udara ancol mulai terasa di sepanjang kolam hijau yang tidak pernah kering itu. Kerlip bintang beradu dengan lampu-lampu jalanan. Malam itu juga terang bulan, seperti malam tahun lalu saat aku dan Ares masih bersama.
Seperti orang yang sedang tidak nafsu makan, begitu sampai disana aku hanya terduduk, menunggu tengah malam. Tidak ada satupun wahana yang menggodaku malam itu. Padahal mereka dapat dimainkan sebelum tengah malam tiba. Saat itu aku hanya bisa berangan-angan jika saja Ares masih ada, pasti malam ini semakin indah. Jika saja Ares ada disini, aku akan mendekapnya dan tak ingin aku lepas. Aku sedikit menyesali perpisahan kami. Seharusnya aku tidak memintanya untuk mengantarkanku ke toko buku pada waktu itu. Seandainya waktu bisa di ulang, aku tidak akan membiarkan Ares pergi. Pikiranku melayang-layang sampai akhirnya aku putuskan untuk membeli beberapa makanan ringan dan minuman sebagai penyegar pikiran.
Dinginnya udara malam mulai menyulam tubuhku dari ujung kaki hingga kepala. Beberapa waktu aku sempatkan mata ini untuk melihat jam tangan kesayanganku. Jam ini adalah hadiah ulang tahun dari Ares. Ah! Aku mengingatnya lagi. “Tuhan, aku merindukan Ares..” ungapku dalam hati.
Sudah dua jam aku duduk dan makan beberapa keping biskuit cokelat dengan segelas cokelat hangat, sepertinya aku mulai bosan. Semuanya terasa hambar, bahkan cokelat mahal pun seperti tidak ada rasanya. Sekedar jalan-jalan dulu disekitar sini rasanya dapat membantu menghilangkan rasa jenuhku.
Dalam langkahku, tanpa sengaja aku menghalangi lensa kamera seseorang. Tampaknya seseorang itu akan mengambil foto teman-temannya yang sudah berpose didepan sebuah wahana.
“Maaf Mbak, saya mau ambil foto”.
“Oh, iya, maaf Mas.” Jawabku seraya melihat ke arah wajanya, dan.. lelaki itu tampak seperti..
“Ares?”
“Kenapa Mbak?”
“Oh.. tidak Mas, maaf”
Astaga Tuhan, ia mirip sekali dengan Ares. Matanya, rambutnya, bibirnya, badannya, cara berpakaiannya. Ah! Tidak! Ares sudah tidak ada. Aku berusaha meyakinkan diri agar pikiranku keluar dari kejadian aneh yang baru saja kutemui. Ah! Aku berusaha tidak perduli. “Ares sudah tidak ada. Jangan berpikir macam-macam, Reiyas!” ungkapku dalam hati seraya melangkahkan kembali sepasang kaki yang mulai lunglai ini.
Lima menit lagi menuju malam pergantian tahun. Aku sudah bersiap-siap di depan panggung hiburan yang tepatnya tidak jauh dari bianglala. Tempatnya cukup luas sehingga dapat leluasa melihat ke arah langit. Ya, tempat yang pas untuk melihat kembang api dufan seperti yang pernah diceritakan Ares.
Lamunanku dikejutkan oleh seseorang yang menyapaku dengan ramah. “Malam tahun baru sendirian aja Mbak?” Ujar lelaki yang tadi sempat aku temui didepan sebuah wahana. Ya, lelaki yang tadi sedang mengambil foto teman-temannya. Lelaki yang mirip sekali dengan Ares. Lelaki itu terlihat berpisah beberapa jarak dengan teman-temannya. Aku yang terkejut tidak dapat mengeluarkan kata-kata.
“Mbak, maaf saya membuat Anda kaget ya?” Sapanya lagi dengan sedikit wajah humoris.
“Oh, emm, iya, eh, nggak, nggak apa-apa kok Mas.” Aku sangat salah tingkah dibuatnya.
“Mbak sendirian aja?”
“I..iya.” Jawabku kaku.
“Oh ya, perkenalkan Mbak, nama saya.. Ares..”
***

@pitajoe_
2013

Namanya...

Aku mulai mengenal namanya
Tetapi mati rasa aku dibuatnya
Tak kenal siapa diri ini
Tak kenal nalar dan akal
Hanya satu rasa yang mengendap keras
Meminta untuk disebut dan diteriakkan namanya
Agar semua penghuni bumi ini mengenalnya
Ku bawa namanya ke tujuh langit
Tetapi namanya ingin terbang lebih tinggi lagi dan lagi
Ku ajak namanya ke dasar laut
Namun namanya lebih dalam dibandingkan dalamnya lautan
Aku mulai kebingungan…
Dan kubuka hati ini untuk kusimpan namanya
Ternyata disanalah tempat yang layak untuknya.
Ku perkenalkan pada kalian, namanya adalah…
CINTA

-pitajoe-
di sisa 2013

Begini ceritanya...

akan aku ceritakan pada kalian, tentang hidupku.
namaku Luka.
aku hidup sendiri dalam rumah ini. hanya ada dua teman setiaku yang kadang datang menemuiku. mereka adalah Air Mata dan Geram. Air mata sangat baik hati dan menenangkanku. Lain dengan Geram yang selalu mengajakku untuk menyelesaikan masalah dengan tindakan tercela. jika Geram mendoktrinku, disaat itulah Air Mata memberikan beberapa nasihat yang membuatku enggan menuruti ajakan Geram.

mereka yang diluar sana membenciku. Bahagia, Tawa, Senang, dan yang lainnya. mereka sangat sangat membenciku. seperti tidak ingin kenal denganku. mereka tidak mau mengakui keberadaanku.
pernah suatu ketika, Bahagia dan Tawa sedang makan siang di sebuah rumah makan. tidak lama kemudian, aku yang sedang mengamatinya jauh-jauh langsung menghampiri mereka. maksudku hanya sekedar ingin ikut makan siang bersama. tetapi aku disambut dengan wajah masam dan mereka pergi begitu saja meninggalkanku. tak lama kemudian, Air Mata datang dan menemaniku yang sedang bersedih.
kami duduk di tepi kolam di sebuah taman. di sana Air Mata berkata bahwa ia akan bercerita padaku tentang Kisah Ubur-Ubur Yang Malang.
baru mendengar judulnya saja aku sudah sangat tergugah. aku ingin Air Mata segera menceritakannya. seakan mengetahui antusiasku untuk mendengarkan, Air Mata berkata, "Sabar, Luka. ceritanya baru saja akan dimulai. Begini Ceritanya..." 

-pitajoe-